Pekanbaru, riauantara.co | Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Riau terus diperkuat di tengah masih tingginya angka kasus yang ditemukan, terutama di Kota Pekanbaru yang menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengungkapkan bahwa berdasarkan data hingga Triwulan IV 2025, jumlah kumulatif kasus HIV di Riau sejak 1997 telah mencapai 11.336 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.990 orang dengan HIV (ODHIV) masih hidup.
"Total kumulatif temuan kasus HIV di Provinsi Riau sejak tahun 1997 sampai Triwulan IV 2025 adalah sebanyak 11.336 kasus, dengan jumlah Orang Dengan HIV yang masih hidup sebanyak 6.990 ODHIV," ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, kasus tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota, dengan dominasi terbesar berada di Pekanbaru.
"Tersebar di 12 kabupaten/kota dengan kasus terbanyak di Kota Pekanbaru yaitu sebanyak 6.598 ODHIV atau 58,20 persen, sedangkan daerah lain sebarannya di bawah 10 persen," jelasnya.
Menurutnya, tingginya angka di Pekanbaru tidak lepas dari karakteristik kota sebagai pusat aktivitas dengan jumlah penduduk besar serta mobilitas yang tinggi.
"Kota Pekanbaru merupakan daerah dengan temuan kasus HIV terbanyak di Riau. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya jumlah penduduk yang lebih besar, dinamika sosial dan ekonomi yang tinggi, gaya hidup serta mobilitas penduduk yang tinggi," ungkapnya.
Selain itu, keberadaan fasilitas layanan HIV yang lebih lengkap dan lebih dahulu berkembang juga menjadi faktor penunjang.
"Kemudian Kota Pekanbaru memiliki layanan HIV tertua di Riau yaitu RSUD Arifin Achmad, sehingga pasien-pasien lama dari kabupaten/kota banyak mengakses layanan di Kota Pekanbaru," tambahnya.
Untuk menekan laju penularan, Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengoptimalkan strategi nasional STOP HIV yang mencakup edukasi, deteksi dini, pengobatan, serta menjaga kondisi virus tetap terkendali.
"Langkah utama Dinas Kesehatan Provinsi dalam menekan penularan HIV/AIDS adalah melaksanakan strategi penanggulangan HIV sebagai strategi nasional yaitu STOP HIV, S yaitu suluh atau penyuluhan, T temukan kasus sedini mungkin, O obati, dan P pertahankan kadar virus HIV tetap tersupresi," jelasnya.
Edukasi kepada masyarakat menjadi fokus utama guna meningkatkan pemahaman terkait penularan dan pencegahan HIV.
"Menginformasikan kepada masyarakat apa itu penyakit HIV, bagaimana penularannya serta bagaimana mencegahnya merupakan faktor yang sangat penting untuk memutus mata rantai penularan. Informasi ini telah disampaikan melalui media sosial, promosi kesehatan oleh petugas di puskesmas yang turun ke masyarakat, ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus serta dengan dialog interaktif di RRI," ujarnya.
Selain itu, upaya deteksi dini juga terus diperluas. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 198.298 orang telah menjalani tes HIV, dengan 1.051 orang dinyatakan positif.
"Dinas Kesehatan Provinsi Riau tahun 2025 telah melakukan testing HIV sebanyak 198.298 orang, dengan kasus HIV positif sebanyak 1.051 orang," ungkapnya.
Di sisi pengobatan, sebanyak 4.172 orang tercatat telah mengakses layanan perawatan dan terapi HIV di seluruh wilayah Riau.
"Tahun 2025 tercatat sebanyak 4.172 orang mengakses layanan perawatan dukungan pengobatan HIV se-Provinsi Riau," katanya.
Hasilnya menunjukkan capaian positif, di mana mayoritas pasien berhasil menekan jumlah virus dalam tubuh.
Tercatat tahun 2025 telah dilakukan pemeriksaan viral load terhadap 2.524 ODHIV dengan hasil 95,92 persen virusnya telah tersupresi," jelasnya.
Meski demikian, tren peningkatan kasus masih menjadi perhatian serius. Data menunjukkan lonjakan kasus sejak dekade 2010-an hingga beberapa tahun terakhir.
"Sejak tahun 1997 ditemukan 11.336 kasus dengan 6.990 orang masih hidup. Dengan data kasus memasuki stadium AIDS sebanyak 4.480 orang," kata Zulkifli.
Ia merinci, jumlah kasus terus mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat, mulai dari 433 kasus pada 2013 hingga mencapai 1.051 kasus pada 2025.
Untuk tahun 2013 ditemukan 433 kasus, 2014 sebanyak 569 kasus, 2015 sebanyak 738 kasus, 2016 sebanyak 576 kasus, 2017 sebanyak 741 kasus, 2018 sebanyak 675 kasus, 2019 sebanyak 587 kasus, dan 2020 ditemukan 726 kasus.
"Setelahnya pada 2021 ditemukan sebanyak 570 kasus, 2022 sebanyak 835 kasus, 2023 sebanyak 1001, 2024 sebanyak 1006 kasus, terakhir pada 2025 sebanyak 1051 kasus," ungkapnya.
Selain Pekanbaru, sejumlah daerah lain juga mencatat angka kasus cukup tinggi, seperti Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Rokan Hilir, hingga Indragiri Hilir.
"Selain Kota Pekanbaru, kasus terbanyak lainnya ditemukan di Kabupaten Bengkalis 951 kasus, Kota Dumai 855 kasus, Kabupaten Pelalawan 596 kasus, Rokan Hilir 556 kasus dan Indragiri Hilir 477 kasus," ujarnya.
"Setelahnya di Kabupaten Siak 327 kasus, Rokan Hulu 265 kasus, Kepulauan Meranti 223 kasus, Indragiri Hulu 213 kasus, Kampar 170 kasus dan Kuantan Singingi 105 kasus," tambahnya.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau pun kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui perilaku hidup sehat dan menghindari faktor risiko penularan.
"Kami juga menekankan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang penyakit menular ini. Serta hindari perilaku seksual berisiko," katanya.
Pencegahan juga dapat dilakukan melalui langkah sederhana seperti tidak berbagi jarum suntik serta menjalani terapi antiretroviral bagi yang telah terinfeksi.
"Hindari penggunaan berbagi jarum suntik, dan lakukan terapi ARV bagi yang sudah terinfeksi," pungkasnya.


Komentar