Kasus Langka Remaja Dua Rahim Berhasil Ditangani RSUD Arifin Achmad Riau | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Kasus Langka Remaja Dua Rahim Berhasil Ditangani RSUD Arifin Achmad Riau

Rabu, 15 April 2026 | 18:11 WIB
RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau berhasil menangani kasus medis langka yang dialami seorang remaja perempuan berusia 14 tahun
Pekanbaru, riauantara.co | RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau berhasil menangani kasus medis langka yang dialami seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, yakni sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich (HWW).

Kondisi ini tergolong unik karena pasien memiliki dua rahim, dua serviks, satu vagina, serta hanya satu ginjal. Kelainan tersebut menyebabkan salah satu rahim mengalami penyumbatan, sehingga darah menstruasi tidak dapat keluar dan menumpuk hingga ke saluran tuba.

Akibatnya, pasien mengalami pembesaran organ reproduksi yang menimbulkan nyeri hebat setiap kali menstruasi.

Penanganan kasus ini dilakukan oleh tim dokter spesialis, di antaranya dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fertilitas, Endokrin, dan Reproduksi, dr. Imelda E Baktiana, serta dokter spesialis Obgyn Konsultan Uroginekologi dan Rekonstruksi, dr. Dafnil Akhir Putra.

Setelah melalui berbagai pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen, USG transrektal, dan MRI, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi gabungan pada Senin (13/4/2026).

"Kasus ini sangat jarang terjadi, dengan kemungkinan di bawah satu persen atau sekitar satu dari 600 pasien dengan gangguan pembentukan organ reproduksi," ungkap dr. Imelda.

Dalam tindakan tersebut, dr. Dafnil melakukan pembukaan sekat yang menyumbat rahim melalui vagina, sekaligus mengeluarkan darah menstruasi yang tertahan serta melakukan rekonstruksi agar fungsi organ kembali normal.

Sementara itu, dr. Imelda melakukan prosedur histeroskopi, yaitu teknik minimal invasif menggunakan alat berkamera untuk melihat kondisi dalam rahim. Ia juga melakukan laparoskopi guna membersihkan darah yang telah menyebar ke rongga perut.

"Melalui tindakan ini, kami dapat memastikan kondisi rahim sekaligus membersihkan darah yang menyebar dengan metode minimal invasif," jelas dr. Imelda.

Setelah operasi, kondisi pasien dilaporkan stabil. Jika tidak ada kendala, pasien diperkirakan dapat pulang sehari setelah tindakan dan melanjutkan pemeriksaan lanjutan secara berkala.

Terkait kondisi dua rahim yang dialami pasien, dr. Dafnil menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan kelainan bawaan akibat gangguan pembentukan organ reproduksi sejak masa embrio.

"Walaupun bentuk kelainannya sudah diketahui, penyebab pasti gangguan perkembangan embrio ini masih belum sepenuhnya dipahami," terangnya.

Tim dokter juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sejak masa kehamilan. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi gizi seimbang dan rutin memeriksakan kandungan.

"Kami mengimbau para ibu untuk menjaga pola makan dan rutin kontrol ke tenaga kesehatan," kata dr. Imelda.

Selain itu, orang tua diminta lebih peka terhadap kondisi anak perempuan yang memasuki masa pubertas.

"Jika anak usia 10 hingga 14 tahun mengalami nyeri haid berlebihan atau tidak mengalami menstruasi sama sekali, segera periksakan ke fasilitas kesehatan," tambah dr. Dafnil.

Pihak rumah sakit juga menegaskan kesiapan mereka dalam menangani kasus serupa.

"RSUD Arifin Achmad memiliki tenaga medis dan fasilitas yang memadai untuk menangani berbagai kasus kesehatan reproduksi wanita," tutup dr. Imelda.
Bagikan:

Komentar