YOGYAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) – Perjalanan Briliant Agung Madani meraih gelar sarjana di UPN Veteran Yogyakarta menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi. Putra keluarga sederhana asal Bukittinggi, Sumatera Barat, itu berhasil dinobatkan sebagai lulusan terbaik I Program Studi Teknik Pertambangan pada wisuda periode I Tahun Akademik 2026/2027.
Briliant menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik Pertambangan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,59. Prestasi tersebut diraih setelah melewati perjalanan akademik yang tidak hanya diwarnai aktivitas perkuliahan, tetapi juga berbagai organisasi dan kompetisi di bidang pertambangan.
Briliant merupakan putra pasangan Ardiviol dan Desril Remita. Ayahnya bekerja sebagai pekerja bengkel, sementara ia tumbuh dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Sumatera Barat. Lulusan SMA Negeri 1 Baso tersebut kemudian mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui Program KIP Kuliah.
Bagi Briliant, KIP Kuliah memiliki arti lebih dari sekadar bantuan pembiayaan pendidikan. Program tersebut menjadi pintu kesempatan baginya untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mengembangkan kemampuan tanpa harus terlalu terbebani persoalan ekonomi.
“Bagi saya, KIP Kuliah bukan hanya bantuan biaya pendidikan, tetapi sebuah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang tanpa terlalu dibebani persoalan ekonomi. Kesempatan ini membuat saya bisa lebih fokus menjalani perkuliahan dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki,” ujar Briliant.
Aktif Berkompetisi dan Mengasah Kemampuan
Di tengah kesibukan akademik, Briliant aktif mengikuti organisasi serta berbagai kompetisi yang berkaitan dengan bidang pertambangan. Sejumlah kompetisi bahkan berskala internasional dan mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kegigihannya membuahkan sejumlah prestasi. Briliant berhasil meraih Juara I Underground Mine Supporting, Juara II Bench Blast, Juara II Vertical Rock Drilling, serta masuk Top Five Mine Plan Design dalam Youth Mining Competition.
Selain itu, ia juga meraih Juara III National Student Poster Competition pada bidang geoteknik.
Bagi Briliant, kompetisi tidak sekadar tentang mengejar piala maupun penghargaan. Lebih dari itu, setiap kompetisi menjadi ruang untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan teknis dan analisis yang diperolehnya selama menjalani perkuliahan.
Kompetisi juga melatihnya membangun kerja sama dalam tim, mengambil keputusan, hingga berani mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan di hadapan peserta maupun juri.
Sempat Gagal, Bangkit dan Akhirnya Berhasil
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Briliant adalah ketika mengikuti Youth Mining Competition. Untuk bisa menjadi bagian dari tim perwakilan jurusan, ia terlebih dahulu harus melewati proses seleksi dan bersaing dengan mahasiswa lainnya.
Kesempatan tersebut baru berhasil diraihnya pada semester VI. Sebelumnya, Briliant sempat belum berhasil lolos sebagai perwakilan jurusan.
Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru menjadi pemacu untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kemampuan secara lebih matang.
“Pengalaman itu menjadi motivasi untuk terus belajar dan mempersiapkan diri lebih baik. Bagi saya, proses menuju kesempatan tersebut juga merupakan bagian dari keberhasilan,” ungkapnya.
Kisah Briliant menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari latar belakang keluarga yang serba berkecukupan. Dengan kesempatan, kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar, keterbatasan justru dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan dengan predikat lulusan terbaik I Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta, Briliant membawa bekal akademik dan pengalaman kompetisi untuk melanjutkan langkahnya ke dunia profesional, khususnya di bidang pertambangan.** ( BIP/RED )
EDITOR : DH


Komentar