Pertamina Patra Niaga Perkuat Pemberdayaan Perempuan, Dorong Kemandirian Ekonomi hingga Pelestarian Budaya | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Pertamina Patra Niaga Perkuat Pemberdayaan Perempuan, Dorong Kemandirian Ekonomi hingga Pelestarian Budaya

Sabtu, 26 September 2026 | 20:16 WIB



JAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) — Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun keluarga dan masyarakat yang lebih mandiri. Semangat tersebut terus didorong PT Pertamina Patra Niaga melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) yang disesuaikan dengan potensi lokal di sejumlah wilayah Indonesia.


Tiga program pemberdayaan yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga yakni PUANMAKARI oleh Integrated Terminal (IT) Makassar, Posyandu Aster oleh IT Pontianak, serta Mina Tenun oleh Avtur Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL).


Ketiganya memiliki pendekatan berbeda, namun berada dalam satu tujuan, yakni membuka ruang bagi perempuan untuk meningkatkan kapasitas, membangun kemandirian ekonomi, sekaligus mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat.


Di Makassar, PUANMAKARI atau Perempuan Mandiri Anak Percaya Diri dikembangkan sebagai wadah pemberdayaan sekaligus perlindungan bagi perempuan dan anak.


Program tersebut mencakup berbagai kegiatan, mulai dari kelas parenting, pendidikan anak, kelompok belajar perempuan, pelatihan kewirausahaan hingga pendampingan hukum.


Hingga kini, PUANMAKARI telah menjangkau 57 anak, 18 perempuan, 14 warga fakir miskin, dan 11 lansia. Program ini juga mendorong pengembangan usaha pengolahan hasil laut melalui Dapur Perlawanan, sehingga pemberdayaan tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.


Posyandu Aster Jadi Ruang Pemberdayaan Perempuan


Di Pontianak, Pertamina Patra Niaga melalui IT Pontianak mengembangkan Posyandu Aster sebagai ruang yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan dengan pemberdayaan masyarakat.


Posyandu tersebut tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang edukasi, penguatan kepedulian lingkungan, serta pengembangan kewirausahaan sosial.


Melalui CV Aster Kulina Prima, masyarakat, khususnya perempuan, memperoleh kesempatan untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Usaha tersebut mampu menghasilkan omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per bulan yang turut mendukung operasional posyandu sekaligus membuka peluang usaha baru.


Ketua Posyandu Aster, Nurul Azizah Novihayati, menilai perempuan membutuhkan ruang yang cukup untuk berkembang dan berkontribusi dalam lingkungan sekitarnya.


“Perempuan tidak hanya perlu dijaga kesehatannya, tetapi juga perlu diberi ruang untuk tumbuh, belajar, mengambil keputusan, dan berdaya. Karena perempuan yang berdaya akan menjadi penggerak bagi keluarganya dan lingkungannya,” kata Nurul.


Mina Tenun Padukan Pemberdayaan dan Energi Bersih


Sementara itu, di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Pertamina Patra Niaga menjalankan program Mina Tenun yang menggabungkan pemberdayaan perempuan penenun, pelestarian budaya lokal, serta pemanfaatan energi bersih.


Program yang telah berjalan sejak 2022 tersebut terus dikembangkan. Pada 2026, inovasi dilakukan melalui modifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk mendukung pompa dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.


Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian kearifan lokal dan pengembangan solusi berbasis energi yang lebih berkelanjutan.


VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dalam upaya perusahaan membangun masyarakat yang mandiri dan tangguh.


“Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak keluarga dan masyarakat. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu diwujudkan dengan membuka ruang untuk belajar, mengembangkan keterampilan, mengambil keputusan, dan membangun kemandirian ekonomi,” ujar Kitty.


Menurut dia, ketiga program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dirancang berdasarkan potensi serta kebutuhan masing-masing daerah.


“Kami ingin program CSR Pertamina Patra Niaga tidak berhenti pada bantuan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang membuat masyarakat menjadi pelaku utama. Ketika perempuan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan mandiri, manfaatnya akan dirasakan oleh keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” pungkasnya.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar