MAGELANG, ( RIAUANTARA.CO ) – Prestasi membanggakan diraih Farid Azhar dalam Wisuda Universitas Tidar (Untidar) periode ke-75. Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,99.
Farid menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam waktu 3 tahun 9 bulan 8 hari. Menariknya, ia meraih gelar sarjana tanpa menempuh skripsi, melainkan melalui jalur publikasi artikel ilmiah pada jurnal yang terindeks Sinta 2.
Artikel ilmiah yang mengantarkan Farid menyelesaikan studinya berjudul “Development of Geoarcala Roblox Game Integrating Ethnomathematics of Magelang Temples to Enhance Critical Thinking Ability”.
Penelitian tersebut memadukan teknologi permainan Roblox dengan pembelajaran matematika dan unsur budaya lokal. Farid mengembangkan permainan edukatif yang mengajak siswa mengenal sejumlah candi di Magelang sekaligus mempelajari konsep matematika.
Menurut Farid, popularitas Roblox di kalangan pelajar menjadi salah satu inspirasinya. Ia kemudian mencoba mengembangkan permainan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran matematika yang menyenangkan.
Game tersebut mengangkat konsep geometri, khususnya bangun tabung. Dalam permainan, siswa diajak berpetualang ke sejumlah candi di Magelang dan menyelesaikan berbagai soal matematika di setiap lokasi.
Konsep pembelajaran tersebut bahkan telah diuji coba kepada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Salaman.
“Siswa diajak mempelajari matematika dengan cara yang mereka sukai atau menyenangkan,” ujar Farid.
Berawal dari Saran Guru
Perjalanan Farid hingga menjadi wisudawan terbaik terbilang menarik. Lulusan SMK Negeri 1 Magelang jurusan Teknik Kendaraan Ringan itu awalnya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang secara langsung berkaitan dengan matematika.
Keputusannya memilih Pendidikan Matematika justru berawal dari saran seorang guru matematika saat masih sekolah.
“Dulu karena saran guru matematika. Katanya saya pintar matematika, disuruh lanjut kuliah dan ambil prodi matematika,” tuturnya.
Farid kemudian memilih Untidar sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Selain berstatus perguruan tinggi negeri (PTN), lokasi kampus yang relatif dekat dengan rumah menjadi salah satu pertimbangannya.
“Saya tidak mau ngekos. Jadi, Untidar kan PTN yang dekat, akhirnya saya pilih Untidar,” katanya.
Pilihan tersebut kemudian berbuah hasil. Di tengah perbedaan latar belakang pendidikan SMK dengan program studi yang ditempuh di perguruan tinggi, Farid mampu menunjukkan konsistensi hingga menyelesaikan studinya dengan predikat wisudawan terbaik.
Tumbuh dari Keluarga Sederhana
Di balik pencapaiannya, Farid tumbuh dalam keluarga sederhana di Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sang ibu merupakan ibu rumah tangga, sementara ayahnya bekerja sebagai montir di sebuah bengkel sederhana.
Dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan Farid selama menjalani perkuliahan. Ia mengaku doa dan pesan kedua orang tuanya selalu menjadi motivasi untuk memberikan yang terbaik.
Pesan sang ibu yang disampaikan dengan bahasa Jawa pun terus diingatnya.
“Ibu selalu berpesan, ‘Aku ra ngerti opo sing meh mbok lakoni. Tapi, selalu tak doakke sing apik-apik wae.’ Jadi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik,” pungkas Farid.** ( BIP/RED )
EDITOR : DH


Komentar