Pertamina Perkuat Ekonomi Desa Lewat Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Pertamina Perkuat Ekonomi Desa Lewat Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:48 WIB

 


GUNUNG KIDUL, ( RIAUANTARA.CO ) — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat desa terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Pertamina bersama Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY mengembangkan kawasan Hutan Lestari Wanaboga Nangka di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Program yang berlokasi di kawasan Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, tersebut ditandai dengan panen raya sekaligus penanaman lanjutan pohon nangka, Sabtu (3/10/2026).


Pengembangan kawasan hutan seluas 87 hektare itu diarahkan bukan sekadar untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi sumber bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta. Pada saat yang sama, program tersebut diharapkan membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.


Kebutuhan nangka muda untuk industri gudeg di Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari. Sementara produksi lokal DIY saat ini baru berada di kisaran dua ton per hari. Kondisi tersebut membuat sekitar tujuh ton kebutuhan harus dipasok dari luar daerah.


Kehadiran Hutan Wanaboga Nangka di Gunungkidul diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk memperkecil kesenjangan pasokan tersebut. Di sisi lain, pengelolaan kawasan secara produktif memberikan peluang bagi petani lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi dari potensi sumber daya yang ada di wilayahnya.


Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan keterlibatan Pertamina melalui Pertamina Foundation merupakan bagian dari kontribusi dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sekaligus menjaga keseimbangan dengan agenda ketahanan energi.


“Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik saat menghadiri kegiatan panen dan penanaman nangka bersama masyarakat.


Pengembangan kawasan hutan pangan tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Pengelolaan di lapangan melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang kini beranggotakan sekitar 400 petani lokal.


Perwakilan kelompok tani, Ngatimin, mengapresiasi pendampingan yang diberikan secara berkelanjutan. Ia menyebut kelompok tani telah melaksanakan sedikitnya tiga kali panen dan berharap program peningkatan kapasitas masyarakat dapat terus diperkuat.


Menurutnya, hasil panen tidak berhenti pada penjualan buah segar. Ke depan, masyarakat berharap mampu mengembangkan berbagai produk olahan nangka sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan semakin besar.


Pertamina Dorong Program TJSL Berdampak Jangka Panjang


Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang terukur dan berkelanjutan.


Arya menekankan, program pemberdayaan masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan bantuan yang bersifat sesaat. Karena itu, kolaborasi di Hutan Wanaboga Nangka dirancang agar memberikan dampak yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.


“Pertamina berkomitmen untuk memastikan setiap program TJSL yang kami gulirkan tidak hanya bersifat karitatif atau momentum sesaat, tetapi memiliki dampak yang terukur, berjangka panjang, dan berkelanjutan,” kata Arya.


Ia mengatakan, keberlanjutan program tersebut diukur dari berbagai aspek, mulai dari penguatan kedaulatan pangan, peningkatan kemandirian ekonomi petani, hingga upaya menjaga ekosistem lingkungan.


Tantangan geografis Gunungkidul yang didominasi lahan karst dan cenderung kering saat musim kemarau juga menjadi perhatian. Karena itu, program dikembangkan melalui sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih untuk memperkuat produktivitas lahan.


Dalam jangka panjang, kawasan tersebut tidak hanya diproyeksikan sebagai sumber bahan pangan dan bahan baku industri kuliner. Hutan Wanaboga Nangka juga diarahkan untuk berkembang menjadi kawasan eduwisata berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.


Hutan Tak Sekadar Lestari, tetapi Juga Menghidupi Desa


President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengatakan keberhasilan program pengelolaan hutan tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari dampak yang mampu bertahan dalam jangka panjang.


“Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa,” ujar Agus.


Hal senada disampaikan Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto. Menurutnya, penguatan ekonomi masyarakat dapat dimulai dari optimalisasi potensi lokal melalui proses hilirisasi.


“Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” kata Erry.


Sebagai bentuk dukungan langsung kepada petani, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga yang akan digunakan untuk mendukung mobilitas hasil panen kelompok tani.


Selain itu, Pertamina Foundation turut menyerahkan 20 paket bantuan pendidikan SESAMA berupa tas dan perlengkapan alat tulis sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.


Rangkaian kegiatan panen raya kemudian ditutup dengan tradisi Kembul Bujono, yakni makan bersama dengan menyajikan berbagai olahan nangka hasil kreasi masyarakat setempat. Suasana semakin semarak dengan penampilan musik tradisional Rinding Gumbeng, kesenian khas Gunungkidul yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen.


Kolaborasi Pertamina, Pertamina Foundation, pemerintah daerah, UGM, serta kelompok tani tersebut diharapkan mampu menjadikan Hutan Wanaboga Nangka sebagai contoh pengelolaan hutan pangan di kawasan lahan kering.


Lebih dari sekadar menghasilkan nangka, program ini diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan ketahanan pangan, pemberdayaan petani, hilirisasi produk lokal, peningkatan ekonomi desa, dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar