Tidak Hanya ISPA, Karhutla di Inhil Merenggut Korban Jiwa | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Tidak Hanya ISPA, Karhutla di Inhil Merenggut Korban Jiwa

Kamis, 12 September 2019 | 17:07 WIB
RIAUANTARA.CO |  TEMBILAHAN - Fenomena Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indrgairi Hilir semakin membahayakan, bukan hanya dampak asap yang menyebabkan penyakit ISPA yang bisa merenggut nyawa. Juga memusnahkan berbagai potensi ekologi alami serta menghilangkan perekonomian masyarakat petani Indragiri Hilir. Bahkan merenggut nyawa petani akibat panasnya sengatan api karhutla.

Seperti pertistiwa di RT 11 RW 01, Parit 11, Dusun Mugo Mulyo, Desa Lintas Utara, Kecamatan Keritang, Rabu (11/09/2019), petani bernama H Mulyoto berusia 70 tahun ditemukan tewas "terpanggang" dengan kondisi telungkup dan kaki terlilit ranting.

"Saat ditemukan kondisi almarhum sedang telungkup dan kakinya terlilit sama ranting-ranting dengan tubuh yang terbakar," ungkap sumber saat dihubungi awak media, Kamis (12/9).

Informasi lapangan, Mulyono sebelum ditemukan, korban pergi kekebun nya dari rumah untuk memadamkan api yang berkobar di lahan kebun miliknya lebih kurang sekira 1/2 hektar dengan menggunakan semprot tangki punggung.

Namun, hingga sore hari, Mulyoto tidak kunjung pulang dan tidak ada kabar.
Keluarga dan warga sekitar lantas mencarinya dan ketika ditemukan korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Diperkirakan korban tewas terbakar. 

Hingga berita ini diterbitkan, awak media belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisan Polres Indrgairi Hilir.

Menanggapi tragedi tewasnya Mulyoto, Forum Komunikasi Wartawan Indrgairi Hilir (FKWI) mengkritik keras pemerintah yang dinilai tidak dapat menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indragiri Hilir. Bahkan pemerintah telah gagal melindungi hak seluruh petani di Indrgairi Hilir.

Ketua FKWI, Debi Candra mengatakan pemerintah seharusnya sudah antisipasi sebelum masuk musim kemarau tahun 2019. Karena Kabupaten Indrgairi Hilir termasuk rawan karhutla karena perkebunan rakyat berdiri di tanah gambut.

"Ini tidak hanya soal penanganan, namun soal pencegahan. Pemerintah harus mengambil langkah kongkret dengan mealokasikan anggarkan pencegahan karhutal," sebut Debi, Kamis (12/9)

Pemerintah saat ini hanya terfokus kepada memadaman kebakaran. Hasilnya setiap tahun selalu terjadi kebakaran, lalu dipadamkan. Sedangkan upaya pencegahan sangat minim, seharusnya sebelum musim kemarau sudah ada antisipasi dari pemerintah untuk meminimalisir kebakaran. (Hendro)
Bagikan:

Komentar