![]() |
| Bank Indonesia (BI) memaparkan hasil evaluasi ekonomi Riau sepanjang tahun 2025 sekaligus proyeksi ekonomi 2026. |
Pekanbaru, riauantara.co | Bank Indonesia (BI) memaparkan hasil evaluasi ekonomi Riau sepanjang tahun 2025 sekaligus proyeksi ekonomi 2026 dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang digelar di Kantor Perwakilan BI Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Jumat malam (28/11/2025).
Deputi Kepala Perwakilan BI Riau, Sudiro Pambudi, menjelaskan bahwa perekonomian Riau pada triwulan III 2025 tercatat tumbuh 4,98% year-on-year (yoy). Dengan capaian tersebut, Riau tetap mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 secara nasional, dan terbesar kedua di luar Pulau Jawa dengan kontribusi 5,14% terhadap perekonomian nasional.
"Pertumbuhan ekonomi Riau tahun ini ditopang kuat oleh ekspor. Daya saing minyak sawit yang semakin baik dibanding minyak nabati lainnya mendorong permintaan global dan meningkatkan aktivitas perdagangan luar negeri," jelas Sudiro.
Selain ekspor yang menguat, kinerja investasi Riau juga menunjukkan tren positif. Hingga triwulan III 2025, total investasi yang masuk mencapai Rp55,89 triliun, atau 58,83% dari target tahunan. Angka ini turut menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 40 ribu tenaga kerja.
Dengan capaian tersebut, Riau menempati posisi provinsi dengan realisasi investasi terbesar ke-9 nasional. Menurut Sudiro, hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi daerah.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian tumbuh 5,39% yoy, disusul sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan impresif sebesar 7,17% yoy.
Kondisi cuaca yang bersahabat juga membantu meningkatkan produksi kelapa sawit, sehingga pasokan CPO untuk program biodiesel B40 tetap terjaga. Diversifikasi produk turunan sawit, termasuk melalui inovasi packaging, turut mengerek daya saing ekspor Riau.
"Dampak hilirisasi sawit terhadap ekonomi daerah semakin terasa," ungkapnya.
Per Oktober 2025, inflasi Riau tercatat 4,95% yoy, naik dibanding akhir 2024 yang berada pada level 1,25%. Meski demikian, BI optimistis inflasi akhir tahun tetap berada dalam rentang target 2,5% ± 1%, seiring intensifnya program TPID dan GNPIP dalam menjaga produksi serta distribusi pangan.
Di sisi lain, BI Riau terus memperluas dukungan terhadap UMKM. Sepanjang 2025, terdapat 43 UMKM binaan dan klaster serta lebih dari 100 UMKM mitra yang mendapatkan pembinaan, inovasi, hingga digitalisasi usaha.
"Fokus pengembangan UMKM mencakup lima sektor utama: pangan, ekspor, pariwisata, ekonomi kreatif, dan wirausaha. Klaster UMKM kini berkembang di enam daerah, seperti Pekanbaru, Kampar, Siak, dan Kepulauan Meranti," tutur Sudiro.
Transformasi digital juga semakin melaju. Hingga Oktober 2025, transaksi pembayaran melalui QRIS tumbuh spektakuler sebesar 106,92% yoy, dengan total 76,22 juta transaksi, 1,2 juta pengguna, dan lebih dari 888 ribu merchant.
Selain itu, seluruh pemerintah daerah di Riau berhasil masuk kategori Pemerintah Daerah Digital, berdasarkan Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) Semester I 2025.
Meski menghadapi sejumlah hambatan, termasuk realokasi anggaran pemerintah, potensi pengetatan pasokan CPO untuk kebijakan B50, serta gejolak ekonomi global, BI menilai prospek ekonomi Riau 2026 tetap kokoh.
"Pertumbuhan ekonomi Riau diproyeksikan berada di kisaran 4,4%–5,2%, dengan inflasi yang tetap terkendali pada target 2,5% ± 1%," pungkas Sudiro.


Komentar