![]() |
| Sejumlah harga bahan pokok di Kota Pekanbaru melonjak drastis (foto ilustrasi). |
Pekanbaru, riauantara.co | Sejumlah harga bahan pokok di Kota Pekanbaru melonjak drastis setelah bencana alam yang melanda Sumatera Barat dan Sumatera Utara mengganggu jalur distribusi utama. Ketergantungan Pekanbaru pada pasokan dari dua provinsi tersebut membuat dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Rizky Bagus Oka, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi.
"Musibah di Sumbar dan Sumut menjadi duka kita bersama. Tapi imbasnya sangat cepat terasa di Pekanbaru karena kebutuhan pangan kita banyak bertumpu pada dua daerah itu," ujar Rizky.
Rizky mengungkapkan bahwa kenaikan harga komoditas tertentu sangat mencolok. Di sejumlah pasar tradisional, harga cabai merah sudah mencapai Rp130 ribu per kilogram, disusul kenaikan signifikan pada cabai hijau, cabai rawit, bawang merah, hingga berbagai sayuran segar.
"Kenaikan sampai Rp130 ribu untuk cabai merah ini harus segera ditangani," tegasnya.
Komisi II mendesak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk segera mengeluarkan tindakan jangka pendek. Langkah-langkah yang diminta meliputi: Operasi pasar di kawasan terdampak lonjakan harga, Intervensi harga pada komoditas yang kritis dan Pengawasan distribusi secara ketat untuk mencegah penimbunan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, Komisi II telah meminta laporan detail mengenai kondisi stok pangan Pekanbaru, jalur distribusi yang terganggu, serta daftar komoditas yang berpotensi langka dalam 1–2 pekan ke depan.
Rizky menegaskan bahwa bergantung pada Sumbar dan Sumut tidak bisa menjadi pola jangka panjang. Diversifikasi pasokan harus segera dilakukan.
"Kita harus membuka jalur alternatif dari Jambi, Sumsel, dan Lampung. Kerja sama antardaerah wajib diperkuat. Pekanbaru tidak boleh hanya mengandalkan satu sumber," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan struktural, Rizky mendorong percepatan pembangunan Pasar Induk Pekanbaru. Menurutnya, pasar induk yang berfungsi optimal akan memudahkan kota menjaga ketersediaan stok, menstabilkan harga, dan mengurangi ketergantungan pada satu jalur pasokan.
"Kita butuh pasar induk sebagai pusat stabilisasi harga. Dengan pasar induk, stok terjaga dan harga lebih kompetitif," tambahnya.
Ia menutup dengan seruan untuk memperkuat ketahanan pangan kota secara berkelanjutan. Konsep seperti buffer stock daerah, penguatan urban farming, pengembangan sentra hortikultura lokal, serta sistem digital informasi harga pangan menjadi sangat penting.
"Pekanbaru tidak boleh terus goyah setiap kali daerah pemasok dilanda bencana. Termasuk mempercepat kehadiran Pasar Induk sebagai pusat stabilisasi harga," pungkasnya.


Komentar