Bupati Siak Soroti Pencemaran Sungai Pingai, Nelayan Koto Gasib Desak PT AIP Bertanggung Jawab | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Bupati Siak Soroti Pencemaran Sungai Pingai, Nelayan Koto Gasib Desak PT AIP Bertanggung Jawab

Selasa, 10 Februari 2026 | 13:07 WIB
Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, turun langsung ke lapangan pada Senin (9/2/2026) setelah menerima banyak laporan dari warga.
Siak, riauantara.co | Dugaan pencemaran Sungai Pingai di Kecamatan Koto Gasib kembali memicu keluhan warga, khususnya para nelayan. Aktivitas PT Aneka Inti Persada (AIP) disebut menjadi penyebab rusaknya kualitas air sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, turun langsung ke lapangan pada Senin (9/2/2026) setelah menerima banyak laporan dari warga. Ia menegaskan persoalan ini bukan kali pertama terjadi dan harus segera ditangani secara serius.

"Saya menerima banyak laporan, mulai dari ikan yang hilang hingga air sungai yang tercemar. Ini bukan kejadian pertama. Kita mengawal tuntutan masyarakat agar PT AIP bertanggung jawab karena telah merusak sumber kehidupan warga, khususnya nelayan di Koto Gasib," tegas Afni.

Keluhan serupa disampaikan Agus, salah seorang nelayan setempat. Ia mengatakan, sebelum sungai tercemar, para nelayan bisa memperoleh hasil tangkapan hingga berkilo-kilo dalam sehari. Namun kini, mendapatkan beberapa ekor ikan saja sudah sangat sulit.

"Dulu kami bisa dapat banyak ikan. Sekarang mau dapat beberapa ekor saja susah. Kesepakatan ganti rugi keramba sejak tiga bulan lalu juga belum ditepati," ujar Agus.

Ia menambahkan, selama puluhan tahun perusahaan beroperasi, dampaknya justru lebih banyak merugikan nelayan. Karena itu, warga menuntut perusahaan tidak hanya bertanggung jawab, tetapi juga melakukan pemulihan ekosistem sungai.

"Kami minta perusahaan menebar bibit ikan. Selama ini yang kami rasakan hanya kerusakan mata pencaharian, tanpa kompensasi yang layak," katanya.

Keluhan warga juga datang dari Suyono, yang mengaku kondisi sungai kini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.

"Dulu air sungai bisa diminum, sekarang untuk mandi saja bikin gatal. Ikan hilang, sungai juga dipenuhi gulma," keluhnya.
Bagikan:

Komentar