![]() |
| Suasana jelang magrib di Pasar Ramadan WR Supratman Pekanbaru selalu menghadirkan pemandangan khas setiap bulan suci. |
Pekanbaru, riauantara.co | Suasana jelang magrib di Pasar Ramadan WR Supratman Pekanbaru selalu menghadirkan pemandangan khas setiap bulan suci. Deretan lapak dipadati warga yang berburu takjil untuk berbuka puasa. Di antara banyak pilihan, jajanan tradisional tetap menjadi primadona dan membawa nuansa nostalgia yang sulit tergantikan.
Lupis, onde-onde, dadar gulung hingga aneka bubur tersaji rapi di atas nampan besar. Warna-warni kue tradisional itu seakan menghidupkan kembali kenangan masa kecil, ketika menu sederhana sudah cukup menghadirkan kebahagiaan saat berbuka.
Aroma santan dan pandan dari kolak pisang serta bubur sumsum menguar lembut, menggoda pembeli lintas generasi. Bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, hingga bubur candil dengan kuah santan kental menjadi pilihan favorit yang cepat habis.
Salah satu pedagang yang setia menjaga cita rasa tradisional adalah Enjelia. Di lapaknya, aneka bubur dan kolak tersusun rapi, menarik perhatian warga yang ingin menikmati rasa khas Ramadan seperti dulu.
"Di sini ada berbagai aneka bubur dan kolak. Kami tetap mempertahankan rasa khas seperti dulu," ujarnya, Senin (23/02/2026).
Enjelia menegaskan, resep yang digunakan merupakan warisan keluarga yang terus dijaga agar cita rasanya tetap autentik. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per porsi.
Tak hanya sajian manis, ia juga menyediakan menu gurih seperti mie goreng dan bihun untuk pembeli yang ingin makanan lebih mengenyangkan.
"Untuk sajian mie satu porsinya Rp12 ribuan. Kalau onde-onde ambil 4 biji harganya Rp5 ribu, lupis seporsi Rp5 ribu, dan satu tusuk sate kerang Rp4 ribu," jelasnya.
Di sisi lain pasar, lapak gorengan juga tak pernah sepi. Risol, bakwan, tahu isi hingga sala lauk terus digoreng bergantian karena cepat ludes diborong pembeli.
Riski, salah seorang pedagang gorengan, mengaku bersyukur dagangannya kerap habis bahkan sebelum azan magrib berkumandang.
"Alhamdulillah, berapa hari ni habis terjual. Kalau dihitung-hitung, keuntungannya bisa sampai Rp380 ribuan sehari," katanya.
Ia menjual sala lauk seharga Rp500 per buah, sementara risol, bakwan, dan tahu isi dibanderol mulai Rp2 ribu per biji.
"Satu biji sala lauk ini harganya Rp500 perak saja. Kalau risol, bakwan, tahu isi, kita letak mulai Rp2 ribuan sebiji," ungkap Riski.
Ramainya pembeli menunjukkan bahwa jajanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di tengah arus modernisasi kuliner, cita rasa klasik Ramadan tetap bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa.


Komentar