Kenali Jalur Penularan Virus Nipah, Pencegahan Jadi Kunci Tekan Risiko | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Kenali Jalur Penularan Virus Nipah, Pencegahan Jadi Kunci Tekan Risiko

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:45 WIB
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, menjelaskan bahwa terdapat beberapa jalur utama penyebaran Virus Nipah.
Pekanbaru, riauantara.co | Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Karena itu, pemahaman mengenai bagaimana virus ini menyebar menjadi langkah penting untuk meminimalkan potensi penularan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, menjelaskan bahwa terdapat beberapa jalur utama penyebaran Virus Nipah.

Pertama, penularan terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah dan babi. Paparan cairan tubuh seperti darah, air liur, maupun urin hewan yang terinfeksi menjadi faktor risiko utama.

Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami virus, sedangkan babi dapat menjadi inang perantara yang memperbesar kemungkinan penularan ke manusia.

Kedua, risiko juga muncul dari konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi, misalnya nira mentah atau buah yang terkena cairan kelelawar. 

Selain itu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak erat, terutama melalui droplet atau cairan tubuh penderita.

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan variasi pola penyebaran. Di Bangladesh dan India, wabah terjadi tanpa melibatkan hewan ternak sebagai perantara. Sementara di Malaysia, Singapura pada 1998–1999, serta Filipina pada 2014, babi tercatat berperan sebagai penghubung sebelum virus menyebar ke manusia. Fakta ini menegaskan bahwa potensi lompatan virus dari satwa liar ke manusia (spillover) tetap harus diwaspadai.

"Dari sisi medis, hingga saat ini belum tersedia pengobatan spesifik untuk Virus Nipah. Penanganan yang diberikan bersifat suportif dan simptomatik, yakni meredakan gejala seperti demam, gangguan pernapasan, hingga komplikasi berat seperti radang otak (ensefalitis). Perawatan intensif sangat diperlukan pada kasus berat," ujar Mimi, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan, pengembangan vaksin masih terus dilakukan. Beberapa kandidat telah memasuki tahap uji klinis, namun belum tersedia untuk penggunaan luas.

Karena belum ada terapi khusus, pencegahan menjadi benteng utama. Masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan kelelawar maupun babi, tidak mengonsumsi nira mentah, serta memastikan buah dan sayur dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Daging juga harus dimasak hingga benar-benar matang.

"Selain itu, biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit. Gunakan alat pelindung diri saat membersihkan kandang atau kotoran hewan berisiko," imbaunya.
Bagikan:

Komentar