![]() |
| Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau memastikan hingga awal Maret 2026, wilayah Riau masih aman dari kasus Virus Nipah. |
Pekanbaru, riauantara.co | Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau memastikan hingga awal Maret 2026, wilayah Riau masih aman dari kasus Virus Nipah. Penegasan ini disampaikan dalam forum audiensi lintas sektor yang digelar untuk memperkuat langkah antisipatif terhadap potensi penyebaran penyakit tersebut.
Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, menekankan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah pencegahan dini, bukan karena adanya temuan kasus di lapangan.
"Untuk saat ini belum ada kasus Virus Nipah di Riau, dan semoga tidak ada," ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Audiensi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Perkebunan, DLHK, Balai Karantina, BBKSDA, akademisi Universitas Riau, hingga unsur masyarakat seperti PORBI Riau. Sinergi ini dilakukan untuk memperkuat kesiapan menghadapi ancaman penyakit zoonosis yang berisiko tinggi.
Menurut Mimi, Virus Nipah memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada manusia, sehingga kewaspadaan harus dibangun bersama. Penyakit ini pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998 dan secara alami ditularkan melalui kelelawar buah (Pteropus spp.) sebagai reservoir, dengan babi berperan sebagai hewan perantara yang dapat meningkatkan risiko penularan ke manusia.
Secara global, tingkat kematian akibat infeksi Virus Nipah pada manusia dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen. Hingga kini, belum tersedia terapi atau pengobatan khusus untuk penyakit tersebut.
Beberapa faktor yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko penularan antara lain kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman warga, aktivitas perburuan dan perdagangan kelelawar, sanitasi pasar hewan yang kurang memadai, serta populasi babi dalam jumlah besar.
Dari sisi klinis, hewan yang terinfeksi dapat menunjukkan gejala demam, gangguan pernapasan, gangguan saraf, hingga kematian mendadak, khususnya pada babi muda. Sementara pada manusia, gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis).
Sebagai langkah penguatan koordinasi, Dinas PKH Riau telah meneruskan Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian tentang peningkatan kewaspadaan terhadap risiko Virus Nipah kepada seluruh pemangku kepentingan di daerah.
Mimi mengajak masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta segera melaporkan jika menemukan gejala mencurigakan pada hewan ternak.
"Intinya, saat ini Riau masih aman. Kita terus berupaya bersama agar kondisi ini tetap terjaga," tutupnya.


Komentar