![]() |
| Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Riau selama Januari hingga Februari 2026 mencapai US$3,69 miliar, meningkat 10,31 persen (foto ilustrasi) |
Pekanbaru, riauantara.co | Kinerja ekspor Provinsi Riau pada awal 2026 menunjukkan tren menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Riau selama Januari hingga Februari 2026 mencapai US$3,69 miliar, meningkat 10,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menyebutkan bahwa pertumbuhan ini didorong kuat oleh sektor nonmigas yang mencatatkan nilai US$3,60 miliar atau naik 16,10 persen secara tahunan.
Komoditas lemak dan minyak hewan maupun nabati, termasuk crude palm oil (CPO) dan turunannya, menjadi kontributor terbesar. Nilai ekspor komoditas ini tercatat mencapai US$2,30 miliar atau sekitar 63,92 persen dari total ekspor nonmigas.
"Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$592,02 juta atau naik 34,63 persen," ujar Asep, Selasa (14/4/2026).
Selain CPO, beberapa komoditas lain juga mencatatkan peningkatan, seperti bahan kimia organik, ampas dan sisa industri makanan, serta berbagai produk makanan olahan.
Dari sisi pasar, kawasan Asia masih menjadi tujuan utama ekspor Riau. Tiongkok menjadi negara tujuan terbesar dengan nilai US$578,79 juta, diikuti India US$466,24 juta, dan Malaysia US$270,55 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang lebih dari sepertiga total ekspor nonmigas.
Selain itu, ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$579,76 juta, sementara Uni Eropa sebesar US$353,94 juta.
BPS juga mencatat sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama ekspor nonmigas dengan pertumbuhan 16,73 persen, meskipun sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 15,61 persen.
Dominasi CPO dan produk turunannya pun menjadi kunci utama yang menjaga kinerja ekspor Riau tetap tumbuh di tengah dinamika global.


Komentar