Komunikasi Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Energi di Tengah Sorotan Publik | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Komunikasi Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Energi di Tengah Sorotan Publik

Kamis, 21 Mei 2026 | 21:29 WIB

 

Pekanbaru, riauantara.co  — Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan, transisi energi, dan keberlanjutan industri ekstraktif, sektor energi kini menghadapi tantangan yang tidak lagi hanya berkaitan dengan produksi maupun aspek teknis operasional. Kemampuan membangun dan menjaga kepercayaan publik dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan industri.


Persoalan tersebut mengemuka dalam seminar praktisi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dan diikuti puluhan mahasiswa Ilmu Komunikasi.


Seminar bertajuk “Strategi Komunikasi Kreatif, Reputasi Korporasi dan Kesiapan Talenta Muda di Era Industri Energi” menghadirkan Media Relation Officer EMP Bentu Limited, M. Hanshardi, content creator dan film critic Ahmad Reza Mardian, serta crafter dan event organizer Citra Indah Lestari sebagai narasumber.


Dalam pemaparannya, Hanshardi menegaskan bahwa komunikasi kini menjadi elemen strategis dalam menjaga stabilitas operasional industri energi di tengah tingginya sorotan publik terhadap sektor energi dan industri ekstraktif.


“Di industri energi, komunikasi bukan lagi pelengkap. Ketika publik kehilangan kepercayaan, dampaknya bisa jauh lebih sulit dipulihkan dibandingkan kerusakan teknis,” ujarnya.


Ia menjelaskan, fungsi komunikasi di sektor energi saat ini telah berkembang jauh melampaui aktivitas publikasi semata, seperti penyusunan siaran pers atau pengelolaan media sosial. Komunikasi, kata dia, kini menjadi bagian penting dalam membangun penerimaan sosial masyarakat terhadap aktivitas industri.


Menurutnya, perusahaan energi saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari skeptisisme publik terhadap industri ekstraktif, meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, hingga tuntutan percepatan transisi menuju energi bersih.


Di sisi lain, kebutuhan energi nasional terus meningkat sehingga industri energi berada pada posisi yang tidak mudah, yakni menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasokan energi dan tuntutan keberlanjutan lingkungan.


Hanshardi menilai, stabilitas komunikasi turut memengaruhi iklim investasi dan keberlangsungan operasional perusahaan energi. Karena itu, pendekatan komunikasi yang terbuka, jujur, dan adaptif menjadi kebutuhan utama di tengah dinamika industri saat ini.


“Komunikasi di sektor energi harus jujur, tidak defensif, tetapi juga tidak naif dalam melihat realita kebutuhan energi masyarakat,” katanya.


Ia juga menekankan bahwa reputasi perusahaan tidak dibangun secara instan ketika krisis terjadi, melainkan melalui komunikasi yang dijaga secara konsisten jauh sebelum persoalan muncul ke publik.


Selain itu, ia menilai industri saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi, komunikasi, kerja tim, hingga kesiapan menghadapi tekanan di lapangan.


“Industri tidak hanya mencari yang paling pintar. Yang dibutuhkan adalah mereka yang siap bekerja, cepat beradaptasi, proaktif, tahan tekanan, dan mampu langsung berkontribusi,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau, Dr Musfialdi, mengatakan seminar praktisi tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan dunia kerja sekaligus perkembangan industri komunikasi yang terus bergerak dinamis.


Ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi di ruang akademik, tetapi juga mampu membaca kebutuhan industri dan tantangan nyata yang berkembang di lapangan.**(RH/RED)

Bagikan:

Komentar