PEKANBARU — Sebanyak 274 mahasiswa baru Universitas Awal Bros mengikuti rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Ballroom Grand Central Hotel Pekanbaru, Senin (14/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, hadir memberikan pembekalan kepada para mahasiswa baru dengan mengusung tema “Unggul Berkarakter, Adaptif Berkarya, Berdampak Nyata.”
Karmila menegaskan, PKKMB tidak boleh dipandang hanya sebagai agenda penyambutan atau seremoni awal memasuki perguruan tinggi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan kampus sekaligus membangun karakter, etika, dan kemampuan beradaptasi.
Dalam pemaparannya bertajuk “Menjadi Generasi Muda yang Berkarakter, Berkonstitusi, dan Menghargai Keberagaman”, Karmila mengajak mahasiswa memahami Pancasila, UUD 1945, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, Pancasila tidak semestinya berhenti sebagai materi yang dihafalkan di bangku sekolah maupun simbol yang terpampang di ruang kelas.
“Pancasila bukan sekadar hafalan saat sekolah, teks yang dibaca ketika upacara, materi ujian, atau simbol di ruang kelas. Pancasila adalah cara kita berpikir, bersikap, memperlakukan orang lain, dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Karmila.
Nilai Pancasila Harus Hidup di Lingkungan Kampus
Karmila kemudian menguraikan bagaimana lima sila Pancasila dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan mahasiswa.
Sila pertama, kata dia, dapat diwujudkan melalui sikap toleransi dan penghormatan terhadap mahasiswa lain yang memiliki keyakinan berbeda.
Sementara sila kedua harus tercermin melalui penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Ia secara khusus mengingatkan mahasiswa untuk menolak bullying, kekerasan, hingga pelecehan seksual di lingkungan kampus.
Karmila menekankan bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang belum tentu diterima sebagai candaan oleh orang lain.
“Jangan sampai hal yang menurut kita bercanda justru menjadi sesuatu yang merusak karakter dan kenyamanan orang lain,” tegasnya.
Pada sila ketiga, mahasiswa didorong untuk tidak menjadikan perbedaan suku, daerah, bahasa, maupun latar belakang sebagai alasan untuk terpecah. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan dalam membangun persatuan.
Sedangkan sila keempat, menurut Karmila, dapat diterapkan melalui budaya berdiskusi, bermusyawarah, serta menghargai perbedaan pendapat.
Ia juga mendorong mahasiswa baru aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan. Pengalaman berorganisasi dinilai penting untuk mengasah kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim, membangun jejaring, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan.
Namun, Karmila mengingatkan agar aktivitas organisasi tidak menggeser tanggung jawab utama mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan.
“Jangan lupa tugas utamanya adalah menyelesaikan kuliah dengan hasil yang sangat memuaskan. Organisasi menjadi ruang untuk belajar memahami karakter orang, berbagi tugas dan membangun kemampuan kepemimpinan,” ujarnya.
Dorong Mahasiswa Jadi Generasi yang Berdampak
Karmila juga mengaitkan sila kelima dengan pentingnya kejujuran, kepedulian, serta sikap menghormati hak orang lain. Nilai tersebut, menurutnya, merupakan modal penting yang akan dibawa mahasiswa ketika memasuki dunia kerja dan terjun ke tengah masyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia kembali menekankan kedudukan Pancasila sebagai dasar sekaligus ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pijakan dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Kehidupan perguruan tinggi, kata Karmila, tidak semata-mata bertujuan mencetak mahasiswa yang unggul secara akademik. Kampus juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, etika, empati, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
“Mahasiswa jangan hanya pintar dan berwawasan. Harus terampil, memiliki karakter unggul dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Dalam sesi dialog, Karmila kembali membuka ruang bagi mahasiswa yang tertarik bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun organisasi kemahasiswaan lainnya.
Ia menilai pengalaman organisasi dapat membentuk kemampuan mahasiswa menjadi problem solver, membangun kerja sama tim, serta memperluas jejaring.
Mahasiswa Diminta Bijak Bermedia Sosial
Tak hanya soal kehidupan akademik dan organisasi, Karmila turut mengingatkan mahasiswa baru agar menggunakan media sosial secara bijak.
Menurutnya, setiap unggahan di ruang digital dapat menjadi rekam jejak yang suatu saat berpengaruh terhadap reputasi, citra diri, bahkan masa depan seseorang.
Karena itu, mahasiswa diminta lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat maupun membagikan informasi di media sosial.
Sebelum sesi pembekalan Karmila, pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof Brian Yuliarto juga disampaikan secara daring kepada mahasiswa baru.
Dalam pesannya, mahasiswa didorong mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.
PKKMB 2026 pun menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru Universitas Awal Bros untuk beralih dari lingkungan sekolah menuju kehidupan perguruan tinggi.
Lebih dari sekadar mengenalkan fasilitas dan aktivitas kampus, PKKMB diharapkan mampu menjadi titik awal pembentukan generasi muda yang memiliki kapasitas akademik, karakter kuat, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Dengan semangat “Unggul Berkarakter, Adaptif Berkarya, Berdampak Nyata”, 274 mahasiswa baru Universitas Awal Bros diharapkan mampu menjalani kehidupan kampus bukan hanya untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberi kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.**
Editor : DH




Komentar