Hari Batik Nasional, Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas dan Buka Ruang Ekonomi Inklusif | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Hari Batik Nasional, Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas dan Buka Ruang Ekonomi Inklusif

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:34 WIB



JAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) — Batik bukan sekadar kain dengan motif dan warna. Di balik setiap goresan canting, tersimpan keterampilan, kreativitas, sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat. Semangat tersebut terus didorong PT Pertamina (Persero) melalui pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik di berbagai daerah.


Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan memperoleh penghasilan melalui sektor kreatif.


Saat ini, sebanyak 428 UMKM batik menjadi bagian dari binaan Pertamina. Pendampingan dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar.


Bagi sejumlah UMKM binaan, batik bahkan berkembang menjadi wadah untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.


Salah satunya Roona Batik di Bantul, Yogyakarta, yang dikelola Muhammad Syauki. Usaha tersebut kini berkembang menjadi bisnis fesyen dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.


Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Mereka mengambil peran dalam proses produksi sekaligus menjadi bagian dari perjalanan pengembangan usaha tersebut.


Kisah serupa datang dari Batik Jinggar, Yogyakarta, yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih. UMKM ini mengembangkan batik sebagai produk fesyen dengan mengedepankan inovasi motif dan desain.


Dengan omzet sekitar Rp100 juta per bulan, Batik Jinggar melibatkan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas.


Sementara di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengangkat kekayaan budaya lokal melalui produk batik tulis. Usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.


Tak berhenti pada pengembangan usaha, Pertamina juga mendorong peningkatan keterampilan melalui program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah. Program tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk mengembangkan kemampuan membatik sekaligus membangun kemandirian ekonomi dan sosial.


Kelompok Sriekandi Patra kini telah memiliki workshop, peralatan, serta modal usaha sendiri. Produk yang dihasilkan pun semakin beragam, mulai dari batik dan oleh-oleh khas Boyolali hingga paket edukasi membatik.


Kelompok tersebut juga membuka ruang kolaborasi dengan desainer untuk memperluas pengembangan produk dan meningkatkan nilai tambah usaha.


Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan pemberdayaan UMKM yang dilakukan Pertamina tidak semata berorientasi pada peningkatan kapasitas bisnis.


Menurutnya, UMKM juga perlu menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi, memperoleh penghasilan, sekaligus membangun kemandirian.


“Bagi Pertamina, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya,” ujar Baron, Sabtu (3/10/2026).


Baron menambahkan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam ekosistem UMKM menunjukkan bahwa prinsip inklusivitas dapat tumbuh dari aktivitas ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.


“Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian. Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina,” katanya.


Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Pertamina sebagai BUMN energi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan kewirausahaan, serta penguatan industri kreatif.


Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Pertamina mendorong UMKM batik untuk tidak hanya menjaga warisan budaya Indonesia, tetapi juga naik kelas, memperluas pasar, meningkatkan nilai ekonomi produk, dan menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.


Dengan demikian, selembar kain batik tak lagi hanya berbicara tentang warisan budaya. Di tangan para pelaku UMKM, batik juga menjadi simbol kreativitas, kesempatan, inklusivitas, dan jalan menuju kemandirian ekonomi.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar