Pertamina Patra Niaga Bangun Ekosistem Minyak Jelantah, Bidik Produksi SAF dan Green Gasoline | riauantara.co
|

Menu Close Menu

Pertamina Patra Niaga Bangun Ekosistem Minyak Jelantah, Bidik Produksi SAF dan Green Gasoline

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:32 WIB



JAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) – Pertamina Patra Niaga terus memperkuat ekosistem pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai langkah strategis mendukung pengembangan energi berkelanjutan di Indonesia. Limbah minyak goreng bekas yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai kini berpotensi menjadi bahan baku energi alternatif, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan Green Gasoline.


Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam mendorong transisi energi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di tengah masyarakat.


Melalui pengembangan sistem pengumpulan UCO, Pertamina Patra Niaga membuka ruang partisipasi masyarakat, koperasi, serta berbagai mitra, termasuk pelaku usaha kuliner. Pengumpulan dilakukan melalui sejumlah kanal untuk membangun rantai pasok bahan baku alternatif yang lebih terorganisasi, terukur, dan berkelanjutan.


Tidak sekadar mengurangi limbah rumah tangga dan usaha kuliner, inisiatif tersebut juga diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku industri energi.


Minyak jelantah yang terkumpul berpotensi diproses lebih lanjut menjadi SAF untuk mendukung kebutuhan bahan bakar sektor penerbangan. Selain itu, UCO juga dapat dimanfaatkan dalam pengembangan Green Gasoline sebagai alternatif produk bahan bakar yang lebih berkelanjutan.


VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pengumpulan minyak jelantah merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam mengoptimalkan potensi sumber daya masyarakat sekaligus memperkuat agenda transisi energi nasional.


"Pertamina Patra Niaga melihat minyak jelantah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku energi masa depan. Melalui inisiatif pengumpulan ini, kami ingin membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat dan berbagai mitra sehingga minyak jelantah dapat dikelola dengan lebih baik dan memiliki nilai tambah. Potensi pemanfaatannya pun tidak terbatas pada pengembangan Sustainable Aviation Fuel, tetapi juga Green Gasoline," jelas Kitty, Sabtu (31/10/2026).


Kesiapan Kilang Jadi Kunci Pengembangan Energi Alternatif

Di sisi industri pengolahan, pengembangan energi berbasis minyak jelantah membutuhkan dukungan teknologi serta kesiapan infrastruktur kilang Pertamina.


Ketersediaan bahan baku dalam jumlah memadai harus berjalan seiring dengan kemampuan fasilitas pengolahan untuk memastikan produksi SAF dan Green Gasoline dapat dikembangkan secara berkelanjutan.


Karena itu, sistem pengumpulan UCO yang dibangun Pertamina Patra Niaga memiliki peran penting dalam menjembatani potensi bahan baku dari masyarakat dengan kebutuhan industri energi nasional.


Sinergi antara masyarakat sebagai sumber bahan baku, mitra pengumpulan, serta kesiapan teknologi pengolahan menjadi fondasi penting dalam membangun rantai pasok energi alternatif dari hulu hingga hilir.


Kitty menegaskan, pengembangan energi masa depan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan. Ketersediaan bahan baku dan kolaborasi berbagai pihak juga menjadi faktor penentu keberhasilan.


"Pengembangan energi masa depan membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, sistem pengumpulan, hingga kemampuan industri dalam melakukan pengolahan. Karena itu, Pertamina terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar potensi minyak jelantah dapat dimanfaatkan secara optimal dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat maupun industri energi nasional," tambahnya.


Dorong Ekonomi Sirkular dan Nilai Tambah bagi Masyarakat

Lebih jauh, inisiatif pengumpulan minyak jelantah tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah material yang sebelumnya dipandang sebagai limbah menjadi sumber daya produktif yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lebih luas.


Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya didorong untuk mengelola limbah minyak goreng bekas secara lebih bertanggung jawab, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam mendukung penyediaan bahan baku energi alternatif.


Pengelolaan UCO secara tepat diharapkan mampu memperkuat praktik konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab sekaligus membuka peluang pengembangan industri energi yang lebih ramah lingkungan.


Dengan memperkuat ekosistem minyak jelantah, Pertamina Patra Niaga berupaya mendorong pemanfaatan limbah menjadi sumber energi bernilai tambah. Langkah ini sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi masyarakat, mitra usaha, dan industri dalam mempercepat pengembangan energi berkelanjutan di Indonesia, termasuk SAF dan Green Gasoline.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar