Pertamina Patra Niaga Gandeng Koperasi, Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Ramah Lingkungan | riauantara.co
|

Menu Close Menu

Pertamina Patra Niaga Gandeng Koperasi, Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:54 WIB



BANYUMAS, ( RIAUANTARA.CO ) – PT Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Koperasi mulai membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) berbasis koperasi. Melalui program percontohan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Dawuhan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026), minyak jelantah dari masyarakat diarahkan menjadi bahan baku produksi energi ramah lingkungan.


Program ini menargetkan pengumpulan sebanyak 500 ribu liter minyak jelantah dalam empat bulan. Pada tahap awal, pengumpulan dilakukan melalui empat lokasi koperasi di Kabupaten Banyumas, sebelum jaringan tersebut diperluas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.


Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi, serta penyerahan minyak jelantah secara simbolis di titik pengumpulan.


Melalui skema ini, KDKMP tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku industri energi rendah karbon.


Minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah rumah tangga akan dikumpulkan secara terorganisasi untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam produksi bahan bakar ramah lingkungan, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur dan Green Gasoline.


Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan bahan baku energi rendah karbon dengan melibatkan masyarakat dan koperasi secara langsung.


“Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan fasilitas pengolahan untuk memanfaatkan minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan, dan selanjutnya akan dikembangkan di kilang lainnya, antara lain Balongan, Dumai, dan Plaju. Karena itu, kepastian pasokan bahan baku menjadi hal penting agar pengembangan energi ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Mars Ega.


Menurutnya, keterlibatan koperasi menjadi faktor penting dalam membangun sistem pengumpulan minyak jelantah yang terorganisasi, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.


Dengan mekanisme tersebut, masyarakat memiliki kesempatan memperoleh manfaat ekonomi dari minyak jelantah yang dikumpulkan. Sementara itu, industri mendapatkan dukungan pasokan bahan baku untuk memperluas pengembangan bahan bakar ramah lingkungan.


“Melalui koperasi, kita ingin membangun sistem pengumpulan yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan. Masyarakat mendapatkan nilai tambah dari minyak jelantah yang dikumpulkan, sementara industri memperoleh dukungan pasokan bahan baku untuk mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan. Dengan demikian, manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan,” kata Mars Ega.


Ia menambahkan, pengembangan ekosistem UCO menjadi bagian dari kontribusi Pertamina Patra Niaga dalam mendukung transisi energi. Upaya ini juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya domestik yang berpotensi diolah menjadi bahan bakar bernilai tambah.


Kementerian Koperasi Dorong KDKMP Jadi Pemasok Minyak Jelantah

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyambut positif kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi. Ia menilai program tersebut membuka peluang bagi koperasi desa dan kelurahan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.


Melalui sistem pengumpulan berbasis koperasi, minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat dihimpun dan memiliki nilai ekonomi. Skema ini sekaligus mendorong masyarakat mengelola limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab.


“Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga karena KDKMP dapat berperan lebih luas dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Minyak jelantah yang selama ini berpotensi terbuang dapat dikumpulkan melalui koperasi dan dihargai secara ekonomi, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pengembangan energi nasional,” ujar Ferry.


Ferry berharap seluruh KDKMP di Indonesia dapat terlibat dalam pengembangan jaringan pengumpulan minyak jelantah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri energi.


Menurutnya, perluasan program tersebut berpotensi memperkuat peran koperasi sebagai mitra pemasok sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat desa dan kelurahan.


“Kementerian Koperasi siap mendukung penguatan peran KDKMP di seluruh Indonesia sebagai mitra penyuplai minyak jelantah kepada Pertamina. Kami berharap kerja sama ini dapat berkembang lebih luas, mendukung produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan potensi ekspor di masa depan,” pungkas Ferry.


Melalui program percontohan ini, Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi berupaya menghubungkan pengelolaan limbah rumah tangga dengan kebutuhan industri energi masa depan. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, minyak jelantah berpotensi menjadi sumber bahan baku alternatif yang mendukung transisi energi sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis koperasi.


Program tersebut juga menempatkan KDKMP sebagai penghubung antara partisipasi masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan energi ramah lingkungan di Indonesia.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar