Dari Kabin Super Puma, Prajurit TNI AU Bertaruh Nyawa Padamkan Karhutla: Sekali Terbang Angkut 2.950 Liter Air | riauantara.co
|

Menu Close Menu

Dari Kabin Super Puma, Prajurit TNI AU Bertaruh Nyawa Padamkan Karhutla: Sekali Terbang Angkut 2.950 Liter Air

Senin, 02 November 2026 | 09:12 WIB



JAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) – Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berlangsung di darat. Dari ketinggian, para prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) turut mempertaruhkan kemampuan dan keselamatan dalam misi kemanusiaan melalui operasi water bombing menggunakan helikopter.


Di balik kokpit helikopter yang membelah langit, tersimpan perjuangan para awak menghadapi medan ekstrem, angin kencang, hingga keterbatasan ruang manuver. Misi tersebut bukan sekadar menjatuhkan air ke titik api, melainkan operasi berisiko tinggi yang menuntut ketepatan, pengalaman, dan koordinasi seluruh personel.


Dalam keterangan resminya, TNI AU mengungkapkan bahwa operasi water bombing telah dilaksanakan di lima wilayah, yakni Pekanbaru, Riau; Pontianak, Kalimantan Barat; Balikpapan, Kalimantan Timur; Gunung Lawu, Jawa Tengah; serta Gunung Ciremai, Jawa Barat.


Operasi ini melibatkan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6. Keduanya dilengkapi perangkat Bambi Bucket, yakni wadah khusus untuk mengambil dan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran dengan kapasitas maksimal mencapai 2.950 liter dalam sekali pengisian.


Namun, besarnya kapasitas air yang dibawa tidak serta-merta membuat misi berjalan mudah. Setiap penerbangan membutuhkan perhitungan matang, terutama ketika helikopter harus menjangkau titik api di kawasan hutan, tebing, hingga pegunungan.


Gunung Lawu, Medan Ekstrem yang Menguji Kemampuan Penerbang

Komandan Skadron Udara 6 sekaligus pilot yang bertugas sebagai pilot in command (PIC), Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol., mengungkapkan pengalaman ketika menjalankan misi pemadaman karhutla di kawasan Gunung Lawu, Jawa Tengah.


Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan tim redaksi Saksi Mata Network, Ravi menjelaskan bahwa kondisi geografis Gunung Lawu menjadi tantangan tersendiri bagi awak helikopter.


Dari kejauhan, kawasan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Banyak rintangan alam atau obstacle yang harus diperhitungkan, baik ketika mendekati titik kebakaran maupun saat menjatuhkan air.


Lokasi api yang berada di kawasan tebing dengan kontur tanah menjulang membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan secara sembarangan.


Pilot harus memperhitungkan posisi helikopter, arah angin, ketinggian medan, hingga ruang manuver yang tersedia. Ketepatan menjatuhkan air harus berjalan beriringan dengan prioritas utama, yakni keselamatan seluruh awak.


Lima Awak Helikopter, Satu Tanggung Jawab Kemanusiaan

Keberhasilan operasi water bombing bukan hanya bergantung pada keterampilan pilot. Di dalam kabin, terdapat lima personel yang menjalankan tugas berbeda, tetapi saling berkaitan.


Ravi menjelaskan, tim tersebut terdiri atas pilot, kopilot, dua operator, dan seorang juru mesin.


Pilot dan kopilot bertanggung jawab mengendalikan helikopter, termasuk melakukan manuver ketika mendekati lokasi kebakaran yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.


Dua operator bertugas membantu memantau kondisi di sekitar sasaran sekaligus mengoperasikan mekanisme pembukaan dan penutupan katup Bambi Bucket sesuai kebutuhan operasi.


Sementara itu, juru mesin memastikan kondisi teknis mesin helikopter tetap terpantau selama penerbangan berlangsung.


Seluruh personel dituntut memahami tanggung jawab masing-masing. Komunikasi yang efektif dan koordinasi yang solid menjadi faktor penting, terutama ketika helikopter harus bermanuver di antara rintangan alam dengan membawa beban air dalam jumlah besar.


Menurut Ravi, keberhasilan misi tidak terlepas dari kerja sama tim, pengalaman, serta kepekaan setiap awak dalam membaca situasi di lapangan. Kemampuan tersebut terus diasah melalui latihan dan pelaksanaan tugas.


Sekali Angkut 2.950 Liter, 10-15 Kali Siklus Pemadaman

Penggunaan helikopter menjadi salah satu strategi penting dalam penanganan karhutla, khususnya untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.


Dengan kapasitas maksimal Bambi Bucket mencapai 2.950 liter, helikopter dapat mengangkut ribuan liter air dalam satu kali pengambilan untuk kemudian dijatuhkan ke titik kebakaran.


Ravi menjelaskan, dalam kondisi yang memungkinkan, jarak pengiriman air dari lokasi pengambilan menuju titik api dapat mencapai sekitar 300 hingga 500 meter.


Dalam satu rangkaian misi, helikopter Super Puma mampu melakukan pengambilan dan penjatuhan air sekitar 10 hingga 15 kali. Jumlah tersebut bergantung pada kondisi medan, ketersediaan sumber air, cuaca, serta pertimbangan keselamatan penerbangan.


Besarnya kapasitas angkut dan intensitas penerbangan tersebut menunjukkan upaya yang dikerahkan TNI AU untuk membantu menekan penyebaran kebakaran dari udara.


Meski demikian, keberhasilan pemadaman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya air yang dijatuhkan. Ketepatan sasaran, kondisi geografis, kemampuan awak, serta koordinasi dengan unsur penanganan karhutla lainnya tetap menjadi faktor penentu.


Bukan Menjatuhkan Air, Justru Mengambilnya yang Paling Berisiko

Ada fakta menarik dari operasi water bombing yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat.


Jika selama ini perhatian publik tertuju pada momen ketika helikopter menjatuhkan ribuan liter air ke titik kebakaran, bagi para penerbang justru proses pengambilan air atau water pick-up menjadi salah satu tahapan paling menantang.


“Risiko terbesar yang kami hadapi di lapangan justru ketika pick up air,” ungkap Ravi kepada tim redaksi Saksi Mata Network.


Menurut dia, keterbatasan area sumber air dapat menyulitkan pergerakan helikopter. Pilot harus menjaga kestabilan pesawat agar proses pengisian Bambi Bucket berlangsung aman dan tepat.


Tantangan semakin besar ketika sumber air berada di waduk atau cekungan yang dikelilingi perbukitan.


Dalam situasi tersebut, awak harus memperhitungkan daya angkat helikopter, kemampuan mesin, bobot air yang dibawa, serta ketinggian medan yang harus dilalui.


Beban air yang penuh membuat helikopter membutuhkan perhitungan performa penerbangan secara cermat, terutama ketika harus menanjak melewati kawasan berbukit.


Kesalahan dalam memperhitungkan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penerbangan. Karena itu, kemampuan pilot dan kopilot dalam membaca karakteristik medan menjadi sangat menentukan.


Angin Helikopter Bisa Membahayakan Warga

Selain medan ekstrem, keselamatan masyarakat di sekitar lokasi operasi juga menjadi perhatian serius.


Ravi menjelaskan, tantangan lain muncul ketika sumber air berada tidak jauh dari kawasan permukiman penduduk.


Dalam kondisi seperti itu, awak harus menentukan arah pendekatan atau approach secara tepat. Sebab, aliran udara yang dihasilkan baling-baling helikopter dapat menimbulkan hembusan angin sangat kuat dan berpotensi membahayakan warga maupun benda-benda di sekitarnya.


“Kami harus benar-benar menentukan arah approach yang jauh dari permukiman penduduk, karena angin yang dihasilkan sangat kencang dan bisa membahayakan,” jelasnya.


Pertimbangan tersebut memperlihatkan bahwa operasi pemadaman dari udara tidak semata-mata berorientasi pada keberhasilan menjatuhkan air ke titik api.


Keselamatan awak, masyarakat, serta lingkungan sekitar harus tetap menjadi prioritas utama. Setiap keputusan penerbangan harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.


TNI AU, Garda Udara dalam Misi Penanggulangan Karhutla

Operasi water bombing menjadi bukti bahwa kemampuan dan teknologi militer dapat dimanfaatkan untuk mendukung penanganan bencana yang berdampak luas terhadap masyarakat dan lingkungan.


Peran TNI AU tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan pengamanan wilayah udara. Dalam situasi darurat, kekuatan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga dapat dikerahkan untuk membantu operasi kemanusiaan, termasuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.


Pengabdian tersebut sejalan dengan nilai-nilai TNI AU melalui semangat AMPUH, yakni Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis.


Melalui operasi yang terencana dan terkoordinasi, TNI AU terus mengambil bagian dalam upaya membantu memadamkan kebakaran di berbagai wilayah Indonesia.


Ketika api melahap kawasan hutan dan lahan, perjuangan untuk menghentikannya tidak hanya dilakukan oleh petugas di permukaan bumi. Dari udara, para prajurit juga bekerja menghadapi risiko demi menekan penyebaran api, melindungi masyarakat, dan mengurangi dampak kabut asap.


Dari balik kabin Super Puma, tersimpan kisah tentang keberanian, disiplin, ketelitian, dan solidaritas. Sebuah pengabdian yang mungkin tidak selalu terlihat dari darat, tetapi memiliki arti besar bagi keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan Indonesia.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar