Pekanbaru, riauantara.co | Kinerja APBN Regional Riau hingga 31 Januari 2026 menunjukkan dinamika yang cukup kontras. Di satu sisi, realisasi belanja negara melesat tajam, namun di sisi lain pendapatan negara justru mengalami tekanan signifikan akibat merosotnya penerimaan Bea Cukai.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Riau, Heni Kartikawati, mengungkapkan bahwa hingga akhir Januari 2026 pendapatan negara di Riau tercatat sebesar Rp2.067,07 miliar atau terkontraksi 11,70 persen secara year-on-year (y-o-y).
"Sampai dengan 31 Januari 2026, pendapatan negara mencapai Rp2.067,07 miliar atau terkontraksi sebesar 11,70 persen (y-o-y). Hal ini dipengaruhi oleh penerimaan Bea Cukai yang terkontraksi cukup dalam yaitu 35,43 persen (y-o-y)," ujar Heni Kartikawati, Rabu (25/2/2026).
Meski pendapatan secara keseluruhan melemah, sektor perpajakan justru menunjukkan sinyal positif di awal tahun. Realisasi pajak tumbuh 15,42 persen (y-o-y) dengan capaian Rp1.373,78 miliar.
"Pendapatan pajak pada awal tahun ini menunjukkan tren positif dengan tumbuh 15,42 persen (y-o-y) atau sebesar Rp1.373,78 miliar. Hal ini ditopang dari sektor PPh dan PPN yang masing-masing tumbuh 20,05 persen dan 24,31 persen (y-o-y)," jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya penurunan tajam pada jenis pajak tertentu.
"Perlu menjadi perhatian bahwa penerimaan PBB dan Pajak lainnya justru terkontraksi sebesar 129,27 persen serta 832,47 persen," tegasnya.
Dari sisi kepabeanan dan cukai, tekanan cukup berat terjadi akibat turunnya ekspor komoditas tertentu, khususnya yang berkaitan dengan CPO dan turunannya.
"Penerimaan Bea Cukai mengalami kontraksi sebesar 35,43 persen (y-o-y) atau senilai Rp595,41 miliar, menyusul turunnya cukai dan bea keluar masing-masing 85,89 persen dan 36,14 persen. Hal ini dipengaruhi karena turunnya tonase ekspor dan penggunaan kolom tarif bea keluar CPO dan produk turunannya dibandingkan Januari tahun sebelumnya," terang Heni.
Di tengah tekanan tersebut, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru mencatatkan pertumbuhan positif. Hingga akhir Januari 2026, PNBP terealisasi sebesar Rp98,76 miliar atau meningkat 21,67 persen (y-o-y).
"Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya PNBP Lainnya sebesar 31,07 persen atau senilai Rp82,11 miliar," ujarnya.
Sementara dari sisi belanja, pemerintah mencatatkan akselerasi yang cukup agresif. Belanja negara mencapai Rp2.838,51 miliar atau tumbuh 40,50 persen (y-o-y).
"Belanja Pemerintah Pusat tumbuh 39,11 persen atau senilai Rp354,70 miliar seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai dan belanja barang yang masing-masing tumbuh 27,56 persen dan 105,69 persen (y-o-y)," kata Heni.
Dengan kombinasi pendapatan yang tertekan dan belanja yang meningkat pesat, APBN Regional Riau hingga akhir Januari 2026 mengalami defisit sebesar Rp771,44 miliar.
"Sampai dengan akhir Januari 2026, realisasi APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp771,44 miliar. Defisit ini lebih tinggi dari tahun lalu pada periode yang sama yang masih surplus Rp321,66 miliar," ungkapnya.
Di tengah dinamika fiskal tersebut, sektor perdagangan luar negeri Riau tetap menunjukkan performa solid. Pada Desember 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD2.019,67 juta.
"Nilai ekspor Desember 2025 sebesar USD2.158,82 juta atau naik 32,54 persen (m-to-m), sedangkan impor sebesar USD139,15 juta atau naik 36,50 persen (m-to-m). Secara kumulatif sampai Desember 2025, neraca perdagangan Riau surplus USD19.729,20 juta," jelas Heni.
Kontribusi ekspor Riau terhadap nasional pada Desember 2025 mencapai 8,19 persen. Ia juga menambahkan bahwa fluktuasi harga CPO sangat memengaruhi harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani.
"NTP kembali naik menjadi 188,87 pada Januari 2025 setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan," tutupnya.


Komentar