Gerakan Pilah Sampah dari Rumah Digencarkan, Pekanbaru Hadirkan Bank Sampah Digital | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Gerakan Pilah Sampah dari Rumah Digencarkan, Pekanbaru Hadirkan Bank Sampah Digital

Jumat, 10 April 2026 | 10:31 WIB
Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan menggalakkan program pemilahan sejak dari rumah
Pekanbaru, riauantara.co | Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan menggalakkan program pemilahan sejak dari rumah. Langkah ini dinilai krusial, mengingat terciptanya kebersihan kota tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengungkapkan bahwa tahun ini pemko mulai mengimplementasikan program bank sampah digital sebagai inovasi dalam pengelolaan sampah.

Melalui sistem tersebut, masyarakat diajak untuk memilah sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan berbagai material bekas lainnya, lalu menyetorkannya ke bank sampah yang telah disediakan.

"Setiap sampah yang disetorkan akan ditimbang dan dihargai. Nilainya langsung masuk ke aplikasi dalam bentuk uang elektronik yang bisa digunakan untuk berbelanja maupun kebutuhan lainnya," jelas Markarius.

Ia menambahkan, beberapa jenis sampah memiliki nilai ekonomi, termasuk minyak goreng bekas yang dapat dihargai sekitar Rp6.000 per kilogram. Dengan sistem digital, masyarakat dapat langsung menerima hasil tanpa proses yang rumit.

Saat ini, bank sampah digital baru beroperasi di satu lokasi. Namun ke depan, pemko menargetkan pengembangan hingga sekitar 10 titik di berbagai kecamatan.

Salah satu lokasi yang sudah tersedia berada di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar.

Markarius juga mengimbau warga untuk mulai mengumpulkan sampah bernilai guna di rumah, seperti botol plastik dan kaca, agar tidak langsung dibuang.

Ia menilai langkah ini mampu menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar secara signifikan.

Selain itu, pengelolaan sampah organik juga turut didorong melalui pembuatan kompos. Edukasi akan dilakukan melalui kelompok masyarakat seperti dasawisma dan posyandu, dengan menyasar peran ibu rumah tangga dalam mengolah sisa makanan dan sayuran menjadi pupuk yang bermanfaat.

"Ini bagian dari langkah kita menuju pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan," tutup Markarius.
Bagikan:

Komentar