![]() |
| peluang pengembangan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA), Provinsi Riau masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memaksimalkan potensi (foto ilustrasi) |
Pekanbaru, riauantara.co | Di balik besarnya peluang pengembangan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA), Provinsi Riau masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memaksimalkan potensi tersebut. Salah satunya adalah rendahnya populasi ternak dibandingkan kapasitas lahan yang tersedia.
Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengungkapkan bahwa saat ini populasi sapi di Riau mencapai sekitar 206.205 ekor. Angka ini dinilai masih jauh dari potensi daya tampung lahan perkebunan sawit yang diperkirakan mampu menampung hingga 500.000 ekor sapi.
"Populasi eksisting saat ini masih jauh di bawah potensi daya tampung lahan sawit kita yang bisa mencapai 500.000 ekor. Ini adalah peluang emas yang harus kita tangkap untuk meningkatkan populasi ternak nasional dari Riau," ucap Mimi, Kamis (9/4/26).
Dari sisi kualitas, ternak sapi di Riau tergolong baik berkat dukungan 195 petugas inseminasi buatan (IB) yang tersebar di seluruh wilayah. Pola pemeliharaan yang dilakukan petani juga dinilai efektif dalam menjaga kualitas genetik, termasuk mencegah terjadinya kawin sedarah.
Namun demikian, tantangan utama terletak pada koordinasi lintas sektor. Hingga kini, keterlibatan perusahaan perkebunan besar dalam skema integrasi masih terbatas.
Selain itu, pengelolaan lahan secara kolektif oleh pekebun kecil juga membutuhkan pendampingan intensif.
Mimi mengakui bahwa menyatukan berbagai pihak dalam satu sistem manajemen bukan perkara mudah.
Oleh karena itu, pihaknya terus menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, baik dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat implementasi program.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap potensi besar sektor ini dapat dioptimalkan, sehingga tidak hanya meningkatkan populasi ternak, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah secara menyeluruh.


Komentar