PEKANBARU, ( RIAUANTARA.CO ) – Kemampuan memproduksi informasi kini semakin mudah seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru: memastikan setiap informasi yang beredar benar, memiliki konteks yang tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Kelas Cerdas Digital 2026 bertema “Jurnalisme Cerdas di Era AI” yang digelar di KHAS Hotel Pekanbaru, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini menyoroti pentingnya verifikasi, etika digital, serta produksi konten terpercaya di tengah derasnya arus informasi digital.
Workshop yang digelar Mediabyte bersama Koneksi (Komunitas Jurnalis Energi Nasional) dan Salisma itu mengangkat tiga pilar utama, yakni Fakta Verifikasi, Etika Digital, dan Konten Terpercaya.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari PT EMP Bentu, BRK Syariah, PT Bumi Siak Pusako (BSP), PTPN IV, dan PT Per.
Dua pemateri dari bidang media dan literasi digital dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni M. Hanshardi, Media Relation Energi Mega Persada, dan Erwin Ardian, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru.
Jangan Terjebak Informasi Viral
Ketua Panitia Kelas Cerdas Digital 2026, Hari Jummaulana, M.I.Kom., mengatakan perkembangan teknologi digital dan AI telah memberikan kemudahan besar dalam menghasilkan sekaligus mendistribusikan informasi.
Namun, menurut dia, kemudahan teknologi harus diimbangi kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mampu memeriksa kebenaran informasi yang diterimanya.
“Kegiatan Kelas Cerdas Digital 2026 ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memahami, memeriksa, dan mengolah informasi secara lebih kritis. Di era AI, kemampuan menghasilkan konten semakin mudah, sehingga kemampuan memastikan kebenaran dan mempertanggungjawabkan informasi menjadi semakin penting,” ujar Hari.
Ia menegaskan, pemanfaatan AI tidak boleh menghilangkan proses verifikasi. Teknologi semestinya digunakan untuk membantu meningkatkan kualitas informasi, bukan menggantikan tanggung jawab manusia dalam memastikan kebenarannya.
“Kami berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai perkembangan AI, tetapi juga mampu menerapkannya secara bijak dalam aktivitas jurnalistik dan kehidupan sehari-hari. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas informasi, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan proses verifikasi,” katanya.
Hari juga mendorong peserta membangun kebiasaan memeriksa sumber, konteks, dan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.
“Manfaat yang ingin kami dorong adalah tumbuhnya kebiasaan untuk tidak langsung percaya dan tidak langsung membagikan informasi sebelum memeriksa sumber, konteks, dan kebenarannya,” lanjutnya.
Viral Bukan Jaminan Kebenaran
Dalam materi “Jangan Langsung Share! Berpikir Kritis dan Verifikasi Informasi di Era AI”, M. Hanshardi mengajak peserta lebih kritis menghadapi berbagai konten yang beredar di ruang digital.
Menurut Hanshardi, banyaknya informasi yang diterima masyarakat tidak otomatis menunjukkan bahwa informasi tersebut benar.
Peserta diajak memahami prinsip sederhana bahwa “Banyak Informasi ≠ Banyak Kebenaran.” Informasi dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari artikel berita, foto, video, pesan WhatsApp, unggahan media sosial hingga konten yang diproduksi menggunakan AI.
Salah satu alur yang diperkenalkan adalah Kenali, Pertanyakan, Verifikasi, Baru Bagikan.
Langkah tersebut penting untuk mendorong pengguna internet tidak terburu-buru menyebarkan informasi hanya karena konten tersebut terlihat meyakinkan atau telah menjadi viral.
“Informasi yang tepat membangun masa depan yang lebih baik,” ujar Hanshardi.
Perkembangan AI membuat tantangan verifikasi semakin kompleks. Teknologi kini mampu menghasilkan teks, gambar realistis, video sintetis, hingga suara yang menyerupai manusia. Kondisi ini membuat kemampuan membedakan fakta dan manipulasi digital menjadi semakin penting.
“Indikasi ≠ Bukti. Jangan hanya melihat yang tampak, tapi pertanyakan apa yang disimpan di baliknya,” tegasnya.
Hanshardi juga mengingatkan bahwa popularitas sebuah konten tidak dapat dijadikan ukuran kebenaran.
“Viral ≠ Valid. Viral bukanlah ukuran kebenaran.”
Dalam proses verifikasi, peserta didorong mengajukan sejumlah pertanyaan dasar: siapa yang membuat informasi, dari mana sumbernya, kapan dibuat, apa konteksnya, apakah ada konfirmasi dari sumber lain, serta apakah foto dan video yang digunakan benar-benar berkaitan dengan peristiwa yang diberitakan.
Verifikasi juga dapat dilakukan dengan menelusuri sumber asli, memeriksa tanggal publikasi, mengecek konteks, melakukan pencarian gambar, membandingkan informasi dengan media kredibel, serta membaca informasi secara utuh.
Prinsip lain yang ditekankan adalah “Share = Tanggung Jawab.” Artinya, setiap orang perlu menyadari bahwa membagikan informasi bukan sekadar aktivitas digital, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap orang lain.
“Di era AI, kemampuan membuat konten semakin mudah. Karena itu, kemampuan memeriksa kebenaran menjadi semakin penting. Think Before You Share,” katanya.
Dari Informasi Menjadi Berita
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian mengajak peserta memahami bagaimana informasi mentah diolah menjadi berita yang memiliki nilai bagi publik.
Melalui materi “Dari Informasi Menjadi Berita: Menentukan Angle, Mengolah Fakta, dan Menyajikan Berita Bernilai di Era Digital”, Erwin menekankan bahwa informasi yang ramai diperbincangkan belum tentu otomatis memiliki nilai berita.
Pertanyaan mendasar bagi jurnalis, kata dia, bukan hanya apakah sebuah informasi sedang viral, melainkan apakah informasi tersebut layak diberitakan dan memiliki kepentingan bagi masyarakat.
“Apakah ini layak menjadi berita?” ujarnya.
Untuk menjawabnya, informasi perlu diuji melalui unsur dasar jurnalistik, antara lain apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa terjadi, apa dampaknya, serta bagaimana informasi tersebut dapat diverifikasi.
Nilai berita juga berkaitan dengan besarnya peristiwa, kedekatan dengan masyarakat, dampak, aktualitas, keterlibatan tokoh, konflik, unsur kemanusiaan, keunikan, hingga tren.
Media Sosial Hanya Pintu Awal
Erwin menjelaskan, media sosial saat ini menjadi salah satu pintu awal bagi ruang redaksi dalam menemukan informasi. Berbagai platform seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, X, dan YouTube dapat menjadi sumber awal untuk mengetahui adanya suatu peristiwa.
Namun, informasi dari media sosial tetap harus melalui proses pemeriksaan sebelum digunakan sebagai bahan pemberitaan.
“Media sosial adalah sumber informasi, bukan sumber kebenaran tunggal,” kata Erwin.
Jurnalis perlu memeriksa sumber, waktu dan lokasi kejadian, visual yang digunakan, saksi, pihak terkait, serta melakukan konfirmasi untuk memastikan informasi tersebut akurat.
Satu peristiwa juga dapat memiliki banyak sudut pandang. Misalnya, isu kenaikan harga BBM dapat dikaji dari dampaknya terhadap inflasi, pengeluaran rumah tangga, tarif transportasi, biaya produksi UMKM, kebijakan pemerintah, hingga respons dunia usaha.
Karena itu, penentuan angle menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik.
Dalam materi tersebut dirumuskan prinsip “Event + Public Interest + New Fact = Angle.” Artinya, sebuah peristiwa perlu dikaitkan dengan kepentingan publik dan fakta baru yang memiliki nilai informasi.
Fakta Harus Diuji
Erwin menegaskan bahwa menemukan informasi belum cukup bagi seorang jurnalis. Fakta harus diuji melalui berbagai sumber, dokumen, data, saksi, pihak terkait, dan proses konfirmasi.
Pertanyaan penting yang harus selalu dikedepankan adalah:
“Bagaimana kita tahu bahwa ini benar?”
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika informasi berkaitan dengan tuduhan serius. Dalam pemberitaan dugaan korupsi, misalnya, jurnalis perlu memeriksa dokumen proyek, anggaran, kontrak, proses tender, pihak pelaksana, kondisi lapangan, pejabat terkait, saksi, hingga pihak yang dituduh.
Dengan proses tersebut, berita tidak berhenti pada pernyataan satu pihak, tetapi dibangun melalui verifikasi, data, dan keberimbangan.
AI Bantu Jurnalis, Bukan Pengganti Tanggung Jawab
Pemanfaatan AI dalam dunia jurnalistik turut menjadi perhatian dalam workshop tersebut.
Erwin menyebut AI dapat membantu berbagai pekerjaan ruang redaksi, seperti membuat transkrip, melakukan riset awal, merangkum dokumen, menerjemahkan informasi, memberikan alternatif judul, membantu analisis data, hingga mendukung produksi visual dan video.
Namun, penggunaan AI juga memiliki risiko, antara lain hallucination, kesalahan konteks, salah tafsir, kesalahan kutipan, hingga informasi yang belum terverifikasi.
Karena itu, AI tidak dapat menggantikan tanggung jawab utama jurnalis maupun redaksi.
“AI tidak datang ke lokasi, tidak mewawancarai korban, dan tidak menerima komplain pembaca. Redaksilah yang bertanggung jawab,” ujar Erwin.
Ia menekankan sejumlah aspek yang tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada AI, yakni kebenaran, konteks, sumber, etika, dan akuntabilitas.
“Gunakan AI untuk mempercepat, bukan untuk menghilangkan verifikasi,” tegasnya.
Kecepatan Tak Boleh Mengorbankan Kepercayaan
Di tengah persaingan media digital yang menuntut kecepatan, proses verifikasi tetap menjadi bagian penting dalam produksi berita.
Workshop tersebut menyoroti sejumlah persoalan yang dapat muncul dalam pemberitaan digital, seperti judul yang tidak sesuai dengan isi, praktik copy-paste, minim konfirmasi, hanya mengandalkan satu sumber, hilangnya konteks, penggunaan unggahan media sosial yang belum terverifikasi, pencampuran fakta dan opini, hingga penggunaan AI tanpa pemeriksaan ulang.
Erwin mengingatkan bahwa menarik perhatian pembaca dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi membangun kepercayaan membutuhkan proses yang panjang.
“Trafik bisa datang hari ini, tapi kepercayaan dibangun bertahun-tahun,” katanya.
Karena itu, kecepatan produksi berita perlu tetap berjalan beriringan dengan objektivitas, keberimbangan, kredibilitas, dan tanggung jawab kepada publik.
Mendorong Ekosistem Informasi yang Sehat
Kelas Cerdas Digital 2026 pada akhirnya tidak hanya membahas teknologi AI, tetapi juga perubahan perilaku dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi.
Bagi masyarakat dan pengguna media sosial, kemampuan memeriksa informasi menjadi penting agar tidak mudah ikut menyebarkan konten yang keliru. Sementara bagi jurnalis dan pekerja media, AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kerja tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Workshop ini sekaligus menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu diikuti peningkatan literasi digital. Kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama kemampuan membaca sumber, memeriksa fakta, memahami konteks, menjaga etika, serta mempertanggungjawabkan informasi yang diproduksi dan disebarkan.
Pada akhirnya, teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dan efisien. Namun, verifikasi, berpikir kritis, etika, keberimbangan, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi utama dalam membangun informasi yang dipercaya publik.**
EDITOR : DH


Komentar