Pendiri IWO Gelar Silatnas Nasional 2026, Keselamatan dan Perlindungan Jurnalis Jadi Sorotan | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Pendiri IWO Gelar Silatnas Nasional 2026, Keselamatan dan Perlindungan Jurnalis Jadi Sorotan

Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:56 WIB

 


JAKARTA, ( RIAUANTARA.CO ) — Para pendiri Ikatan Wartawan Online (IWO) akan menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) perdana pada 2026. Forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali komunikasi antarpenggagas organisasi sekaligus membahas sejumlah persoalan strategis yang dihadapi wartawan di tengah perkembangan industri media.


Salah satu isu utama yang akan menjadi perhatian dalam Silatnas adalah keselamatan dan perlindungan jurnalis saat menjalankan tugas di lapangan. Persoalan tersebut dinilai masih menjadi pekerjaan rumah, terutama menyangkut perlindungan yang seharusnya diberikan perusahaan media kepada wartawannya.


Sekretaris Pendiri IWO, Witanto B Tarbit, mengatakan keselamatan jurnalis tidak boleh dipandang sebagai persoalan individual. Menurutnya, perusahaan media memiliki tanggung jawab dalam memastikan wartawan dapat menjalankan tugas jurnalistik secara aman dan profesional.


“Perlindungan dan keselamatan wartawan oleh perusahaan media tempat mereka bekerja selama ini terkesan terabaikan. Bahkan, kekerasan terhadap wartawan saat menjalankan tugas di lapangan masih kerap terjadi,” kata Witanto dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).


Pria kelahiran Sleman, Yogyakarta, itu menjelaskan Silatnas akan diikuti para pendiri IWO yang berjumlah 18 orang. Panitia juga membuka kemungkinan mengundang para deklarator pendiri IWO serta sejumlah ketua IWO pertama di daerah.


Menurut Witanto, pertemuan tersebut menjadi semakin relevan dengan melihat sejumlah kasus keselamatan jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan di lapangan.


Ia menyinggung kasus meninggalnya lima jurnalis di Banten ketika menjalankan tugas peliputan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau. Peristiwa tersebut, kata dia, menjadi salah satu momentum yang mendorong pentingnya pembahasan serius mengenai aspek keselamatan wartawan.


“Keselamatan dan perlindungan wartawan saat meliput di lapangan akan menjadi tema utama dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.


Tantangan Teknologi dan Masa Depan Jurnalisme


Selain isu keselamatan, Silatnas Pendiri IWO juga akan membahas perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat. Transformasi digital dinilai menuntut wartawan untuk mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi secara tepat guna tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik.


Witanto menilai kemajuan teknologi harus menjadi peluang bagi insan pers untuk meningkatkan kualitas kerja jurnalistik, bukan justru menghilangkan nilai profesionalisme dalam menghasilkan informasi bagi publik.


“Perkembangan teknologi yang semakin pesat memacu wartawan untuk bagaimana menggunakannya sebaik mungkin,” katanya.


Evaluasi Perjalanan IWO Selama 14 Tahun


Tidak hanya membicarakan tantangan eksternal, forum tersebut juga akan menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan organisasi IWO yang telah berdiri selama 14 tahun.


IWO didirikan pada 8 Agustus 2012. Dengan usia organisasi yang telah mencapai 14 tahun, para pendiri dinilai perlu melihat kembali sejauh mana organisasi berkembang serta kontribusinya terhadap kehidupan pers dan profesionalisme wartawan online di Indonesia.


“Internal organisasi IWO yang telah berdiri 14 tahun lalu juga akan dibahas dalam pertemuan,” ujar Witanto.


Menurut dia, perkembangan organisasi menjadi salah satu hal penting yang perlu dievaluasi bersama oleh para pendiri. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan refleksi sekaligus pijakan untuk melihat arah organisasi ke depan.


“Kita ketahui bersama IWO didirikan pada 8 Agustus 2012. Artinya, tahun ini genap berusia 14 tahun. Berkembang atau tidaknya organisasi juga akan menjadi evaluasi bagi para pendiri,” pungkasnya.


Silatnas Pendiri IWO 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk merumuskan gagasan mengenai perlindungan jurnalis, keselamatan kerja wartawan, adaptasi teknologi, serta masa depan organisasi dan pers online di Indonesia.** ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar