Wapres Gibran Apresiasi Gerakan Ibu-ibu Cilacap Kelola Minyak Jelantah, Limbah Rumah Tangga Jadi Sumber Ekonomi | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Wapres Gibran Apresiasi Gerakan Ibu-ibu Cilacap Kelola Minyak Jelantah, Limbah Rumah Tangga Jadi Sumber Ekonomi

Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:43 WIB



CILACAP, ( RIAUANTARA.CO ) – Gerakan pengumpulan minyak jelantah yang digerakkan ibu-ibu dan komunitas bank sampah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mendapat apresiasi dari Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Inisiatif berbasis masyarakat ini dinilai mampu menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi sekaligus mendukung pengembangan energi berkelanjutan.


Apresiasi tersebut disampaikan Gibran saat berkunjung ke Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap pada Senin (26/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti peran aktif masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu, dalam mengumpulkan dan mengelola minyak jelantah agar tidak menjadi sumber pencemaran lingkungan.


“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Gibran.


Upaya tersebut sejalan dengan program pembinaan bank sampah yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga. Melalui pendampingan dan penguatan kapasitas kelompok masyarakat, perusahaan mendorong minyak jelantah yang sebelumnya kerap dibuang begitu saja agar dapat dikumpulkan, dimanfaatkan, dan memiliki nilai ekonomi.


Lebih dari sekadar menjaga kebersihan lingkungan, pengumpulan minyak jelantah juga membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat. Bahkan, minyak jelantah berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan, yang dikenal sebagai salah satu alternatif untuk mendukung transisi energi di sektor penerbangan.


Bank Sampah Cahaya Asri Kumpulkan 50–60 Kilogram Minyak Jelantah per Bulan

Salah satu kelompok yang merasakan manfaat program tersebut adalah Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap. Ketua Bank Sampah Cahaya Asri, Rumdani Prapti Sumiwi, mengatakan bahwa gerakan pengumpulan minyak jelantah awalnya dikembangkan untuk menjawab persoalan lingkungan di sekitar tempat tinggal warga.


Menurut Rumdani, pemahaman mengenai nilai ekonomi minyak jelantah yang diperoleh melalui edukasi Pertamina Patra Niaga menjadi pemicu meningkatnya antusiasme masyarakat untuk mengumpulkan limbah tersebut.


“Kami awalnya tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya. Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak,” ujar Rumdani.


Bank Sampah Cahaya Asri menerapkan pendekatan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Warga dapat menukarkan minyak jelantah yang dikumpulkan dengan uang maupun kebutuhan pangan, seperti telur.


Melalui mekanisme tersebut, bank sampah ini mampu mengumpulkan sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan. Hasil pengumpulan selanjutnya disalurkan melalui mitra pengumpul untuk pemanfaatan lebih lanjut.


Model ini memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga dapat menjadi kegiatan produktif ketika masyarakat mendapatkan edukasi, akses penyaluran, dan manfaat ekonomi yang jelas.


Bank Sampah Abhipraya: Minyak Jelantah yang Dulu Dibuang Kini Bernilai

Manfaat serupa dirasakan Bank Sampah Abhipraya di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Kelompok ini telah menjalankan kegiatan pemilahan sampah sejak 2019 sebelum mengembangkan pengumpulan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.


Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, mengatakan bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu dampak penting dari program tersebut. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat dikumpulkan untuk menghasilkan pendapatan tambahan.


“Dulu minyak jelantah hanya dibuang tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga karena anggota kami telah mendapatkan edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang sangat membantu perkembangan bank sampah,” kata Herry.


Menurutnya, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting dalam memperkuat peran bank sampah. Dengan dukungan tersebut, masyarakat tidak hanya didorong untuk memilah sampah, tetapi juga memahami potensi pemanfaatan limbah yang selama ini belum dikelola secara optimal.


Bank Sampah Beo Asri Kembangkan Pengolahan Sampah Plastik

Sementara itu, Bank Sampah Beo Asri telah bergerak dalam pengelolaan sampah rumah tangga sejak 2012. Direktur Bank Sampah Beo Asri, Sri Widowati, menjelaskan bahwa kelompoknya mulai memperluas kegiatan dengan mengumpulkan minyak jelantah pada 2023.


Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan limbah rumah tangga sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi anggota dan masyarakat sekitar.


Pertamina Patra Niaga turut memberikan dukungan melalui pembinaan, pelatihan, serta bantuan sarana dan prasarana guna memperkuat kapasitas kelompok dalam menjalankan kegiatan pengelolaan sampah.


“Kami sangat berterima kasih karena Pertamina Patra Niaga tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga perhatian dan pembinaan kepada kami. Harapan kami, dukungan ini dapat terus berlanjut sehingga bank sampah dapat semakin berkembang dan meningkatkan kesejahteraan anggota serta warga di lingkungan kami,” ujar Sri.


Tak berhenti pada minyak jelantah, Bank Sampah Beo Asri juga mengembangkan pengolahan sampah plastik dan memanfaatkan sisa palet menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna, seperti kursi, meja, dan rak.


Diversifikasi kegiatan tersebut menunjukkan bahwa bank sampah berpotensi berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang mendorong pengurangan sampah sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi.


Pertamina Dorong Kolaborasi dan Ekonomi Sirkular

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan minyak jelantah membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pendamping program, dan mitra penyaluran.


Menurutnya, pengalaman Bank Sampah Cahaya Asri, Bank Sampah Abhipraya, dan Bank Sampah Beo Asri memperlihatkan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat yang didukung pembinaan berkelanjutan serta akses untuk menyalurkan hasil pengumpulan.


“Pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan yang berkelanjutan, serta terbukanya akses penyaluran hasil pengumpulan. Melalui kolaborasi tersebut, limbah rumah tangga dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan memiliki nilai guna yang lebih besar,” pungkas Kitty.


Program ini menjadi contoh penerapan prinsip ekonomi sirkular, yakni upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan mengurangi limbah melalui pengumpulan serta pengolahan yang lebih bertanggung jawab.


Apresiasi Wakil Presiden Gibran terhadap gerakan masyarakat di Cilacap sekaligus menegaskan pentingnya inisiatif lingkungan yang tumbuh dari tingkat rumah tangga. Dengan dukungan dunia usaha dan partisipasi komunitas, minyak jelantah tidak lagi sekadar menjadi limbah, tetapi berpeluang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung agenda energi berkelanjutan di Indonesia.


Ke depan, penguatan edukasi, pendampingan kelompok, dan perluasan akses penyaluran diharapkan dapat memperbesar dampak program bank sampah, baik dalam menjaga lingkungan maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat.**  ( BIP/RED )


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar