Detik-Detik Mencekam di Rokan Hilir, Rasman Berteriak Selamatkan Rekan Saat Asap Karhutla Mengepung | riauantara.co
|
Menu Close Menu

Detik-Detik Mencekam di Rokan Hilir, Rasman Berteriak Selamatkan Rekan Saat Asap Karhutla Mengepung

Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:34 WIB



RIAU, ( RIAUANTARA.CO ) – Perubahan arah angin secara tiba-tiba membuat situasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, berubah mencekam. Asap tebal bergerak mengepung lokasi kerja, membatasi jarak pandang, dan mengancam keselamatan petugas. Di tengah kondisi tersebut, Rasman berlari mengejar rekan-rekannya sambil berteriak memperingatkan mereka agar segera menyelamatkan diri.


Bagi Rasman, pengalaman itu bukan sekadar bagian dari risiko pekerjaan, melainkan pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi pemadaman karhutla.


Pria berusia 35 tahun tersebut merupakan anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi, salah satu unit usaha APP Group di Riau. Sejak bergabung pada 2013, ia telah menghadapi berbagai tantangan di lapangan, termasuk situasi darurat yang menuntut kecepatan mengambil keputusan.


“Saya dan tim terkepung asap tebal karena perubahan arah angin. Demi keselamatan, saya segera berlari mengejar kawan-kawan sambil berteriak agar segera menyelamatkan diri,” tutur Rasman mengenang kejadian tersebut.


Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman paling membekas selama lebih dari satu dekade dirinya menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan.


Perubahan Angin, Ancaman yang Tak Bisa Diremehkan

Bagi petugas pemadam karhutla, bahaya tidak hanya datang dari kobaran api. Perubahan arah angin, asap yang semakin pekat, medan yang sulit, hingga keterbatasan jarak pandang dapat mengubah kondisi lapangan dalam waktu singkat.


Situasi yang semula memungkinkan petugas melakukan pemadaman bisa berubah menjadi keadaan darurat ketika asap bergerak menuju posisi tim.


Dalam kondisi tersebut, kewaspadaan dan koordinasi menjadi faktor penting. Petugas harus mampu membaca perubahan situasi, berkomunikasi dengan rekan kerja, serta mengambil langkah cepat ketika keselamatan mulai terancam.


Rasman memahami bahwa pengalaman panjang tidak serta-merta menghilangkan risiko. Setiap lokasi kebakaran memiliki karakteristik berbeda sehingga penanganannya membutuhkan kesiapan fisik, ketelitian, dan kemampuan bekerja sama.


Keputusannya berlari memperingatkan rekan-rekannya di Rokan Hilir memperlihatkan pentingnya saling menjaga dalam situasi berbahaya. Baginya, keselamatan seluruh anggota tim tidak boleh dikorbankan demi mengejar target pemadaman.


Seiring perjalanan kariernya, Rasman dipercaya menjadi bagian dari Tim Reaksi Cepat (TRC), yang dituntut siap menghadapi penugasan ketika kebakaran membutuhkan penanganan segera.


Tugas tersebut tidak selalu mudah. Petugas dapat ditempatkan jauh dari permukiman, menghadapi medan yang menantang, dan menjalankan pemadaman dalam waktu lama, bergantung pada kondisi kebakaran di lapangan.


Keterbatasan jaringan telekomunikasi juga menjadi persoalan tersendiri. Ketika berada di lokasi yang sulit dijangkau sinyal, komunikasi dengan keluarga tidak selalu dapat dilakukan secara lancar.


Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan api, tetapi juga oleh kedisiplinan, koordinasi, dan kepatuhan terhadap langkah-langkah keselamatan.


Ada Istri dan Anak yang Menunggu di Rumah

Di balik tugas berisiko tersebut, Rasman memiliki tanggung jawab lain yang tidak kalah penting: menjadi suami bagi Siti Nuraminah (35) dan ayah bagi anak-anaknya.


Nuraminah telah memahami pekerjaan suaminya sejak sebelum mereka menikah. Ia mengetahui bahwa profesi petugas pemadam kebakaran menuntut kesiapan untuk berangkat kapan saja, termasuk ketika penugasan datang secara mendadak dan berlangsung dalam waktu lama.


Namun, memahami risiko pekerjaan bukan berarti terbebas dari rasa cemas.


Kekhawatiran semakin terasa ketika Rasman berada di lokasi pemadaman yang sulit mendapatkan jaringan komunikasi. Dalam keadaan seperti itu, keluarga tidak selalu bisa mengetahui kondisi maupun keselamatan dirinya secara langsung.


Nuraminah pernah menghadapi situasi ketika suaminya harus segera berangkat menjalankan tugas, sementara anak-anak mereka masih kecil dan membutuhkan perhatian. Untuk mendapatkan dukungan selama Rasman bertugas, ia sempat tinggal bersama anak-anak di rumah orang tuanya di Muara Pajar, Pekanbaru.


Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kehidupan keluarga dengan pasangan yang bekerja di lingkungan berisiko membutuhkan kesiapan mental, pengertian, dan dukungan dari keluarga besar.


Ada saat-saat ketika Nuraminah harus mengurus anak-anak dan kebutuhan rumah tangga seorang diri karena suaminya belum dapat pulang. Meski demikian, ia tetap memberikan dukungan terhadap pekerjaan yang dijalankan Rasman.


Baginya, tugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan memiliki manfaat yang lebih luas karena turut membantu mencegah api meluas dan mengurangi potensi dampak kabut asap terhadap masyarakat.


“Bagi saya, itu adalah bagian dari ibadah, karena memadamkan karhutla agar tidak menimbulkan kabut asap adalah bagian dari ibadah,” ungkap Nuraminah.


Pernyataan tersebut menggambarkan dukungan seorang istri yang memahami bahwa pekerjaan suaminya bukan hanya menyangkut tanggung jawab profesional, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat.


Bukan Sekadar Memadamkan Api

Lebih dari sepuluh tahun menjalani tugas sebagai petugas pemadam karhutla telah membentuk pemahaman Rasman mengenai arti tanggung jawab dan kerja sama. Baginya, setiap operasi pemadaman membutuhkan kesiapan menghadapi risiko sekaligus kemampuan memastikan keselamatan orang-orang yang bekerja bersama.


Pengalaman di Rokan Hilir menjadi pengingat bahwa situasi di lapangan dapat berubah tanpa banyak waktu untuk bersiap. Karena itu, kewaspadaan harus tetap dijaga, sekalipun petugas telah terbiasa menghadapi kebakaran.


Di balik upaya mengendalikan api, terdapat tanggung jawab untuk melindungi keselamatan sesama petugas. Ada pula keluarga yang menunggu kepulangan mereka setelah menjalankan tugas.


Bagi Rasman, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari api yang berhasil dipadamkan. Keselamatan rekan-rekannya dan kesempatan untuk kembali berkumpul bersama istri serta anak-anak merupakan bagian penting dari makna keberhasilan tersebut.


Sementara bagi Nuraminah, mendukung suami berarti menerima tanggung jawab pekerjaan yang dijalaninya, tanpa kehilangan harapan agar setiap penugasan berakhir dengan selamat.


Di tengah ancaman karhutla dan asap yang dapat berubah arah sewaktu-waktu, kisah Rasman menjadi gambaran tentang keberanian, solidaritas, dan pengorbanan di balik pekerjaan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.


Sebab, ketika petugas berjuang menjinakkan api di lapangan, ada keluarga di rumah yang terus menanti satu hal sederhana, tetapi begitu berarti: mereka kembali dengan selamat.**


EDITOR : DH


Bagikan:

Komentar