|
Menu Close Menu

Diberlakukan Jam Malam, Massa Mengamuk Minta Presiden Serbia Mundur

Rabu, 08 Juli 2020 | 10:15 WIB

Serbia, riauantara.co | Kerusuhan pecah saat Polisi Serbia berusaha membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata kepada ribuan orang yang melakukan unjuk rasa di Belgrade, Serbia pada Selasa (7/7). Massa marah setelah pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memberlakukan kembali jam malam akibat melonjaknya kasus baru Covid-19.

Para demonstran menyalakan api dan terlihat melemparkan batu ke arah polisi, meneriakkan agar Presiden Aleksandar Vucic untuk Mengundurkan diri. Merka memprotes kinerja pemerintah yang dianggap lamban dalam menangani krisis Covid-19 di negara itu.

Polisi yang terprovokasi kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa yang semakin beringas.

Berbicara setelah protes, Perdana Menteri Ana Brnabic menyesalkan kejadian itu. Dia mengatakan seharusnya tindakan itu tidak dilakukan, apalagi di saaat negara sedang berjuang melawan pandemik.

“Saya mengutuk serangan kekerasan terhadap gedung parlemen di saat negara dan sistem kesehatan kita menghadapi pukulan terkuat dari coronavirus sejak awal pandemik,” ungkapnya, seperti dikutip dari AFP, Rabu (8/7).

Vucic mengumumkan pemberlakuan kembali jam malam pada akhir pekan kemarin, setelah negara Balkan itu mencatat hari paling mematikan dengan adanya penambahan 13 kematian baru.

Jam malam baru akan berjalan dari Jumat hingga Senin, kata Vucic, menambahkan bahwa tim krisis pemerintah akan memutuskan apakah itu diterapkan secara nasional atau hanya untuk Beograd saja.

“Tidak ada yang bisa menanggung angka-angka ini. Kami tidak ingin membunuh dokter kami,”  kata presiden.

Dalam dua minggu terakhir, infeksi harian di Serbia telah meningkat dan sekarang secara teratur mencapai 300.

Pekan lalu, pemerintah memberlakukan beberapa pembatasan baru di beberapa kota dan kota hotspot, termasuk Beograd, di mana kewajiban memakai masker di ruang publik kembali diberlakukan. Beberapa rumah sakit di ibukota juga dirancang ulang sebagai pusat perawatan virus, dan sebuah rumah sakit lapangan telah dibuka kembali di arena olahraga.

Menurut laporan media setempat, situasinya sangat serius di kota barat daya Novi Pazar, di mana rumah sakit telah melaporkan limpahan pasien dan kurangnya peralatan.

Pada hari Senin (6/7) negara tetangganya, Kosovo, kembali memberlakukan  jam malam di ibukota Pristina dan tiga kota lainnya.

Pemerintah Serbia melepaskan langkah-langkah penguncian awal dua bulan lalu, jelang pemilihan Presiden di negara itu. Pada minggu-minggu sebelum jajak pendapat, hampir tidak ada batasan sosial bahkan berbagai acara olahraga diadakan dengan dihadiri oleh ribuan penonton.

Para kritikus menuduh presiden melepaskan kuncian itu terkait dengan pemilihan nasional pada 21 Juni, yang telah membawanya kembali ke tampuk kepemimpinan Serbia.

Saai ini, negara-negara di seluruh Balkan sedang menghadapi peningkatan dalam kasus-kasus baru setelah keberhasilan awal mereka mengekang pandemic Covid-19.
Bagikan:

Komentar