Ket foto :
Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat (LEKEM) Kalimantan, Aspihani Ideris Assegaf
BANJARMASIN, ( RIAUANTARA.CO ) - Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Niño meningkatkan ancaman krisis air bersih di Kalimantan Selatan. Sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru hingga Kota Banjarmasin dan sekitarnya, dinilai perlu mendapat perhatian serius agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat (LEKEM) Kalimantan, Aspihani Ideris Assegaf, mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem penyediaan air minum, terutama dalam menghadapi perubahan kondisi alam yang berpotensi mengganggu pasokan air baku.
Menurut Aspihani, persoalan air bersih tidak cukup ditangani hanya dengan memastikan ketersediaan sumber air. Lebih dari itu, diperlukan sistem pengolahan dan distribusi yang andal agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan ketika kondisi lingkungan mengalami perubahan ekstrem.
“Permasalahan air bersih saat ini tidak sekadar berfokus pada ketersediaan air, melainkan pada keandalan sistem penyediaan air minum dalam menghadapi perubahan kondisi alam,” ujar Aspihani, Sabtu (17/10/2026).
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) tersebut menyoroti potensi intrusi air laut yang dapat meningkatkan kadar garam pada sumber air baku. Kondisi ini berisiko mengganggu proses pengolahan air dan berdampak terhadap keberlangsungan distribusi air bersih kepada pelanggan.
“Persoalannya bukan sekadar ketersediaan air, melainkan kemampuan sistem penyediaan air minum menghadapi tantangan alam, terutama saat terjadi intrusi air laut yang menyebabkan air baku menjadi asin,” tegasnya.
Intrusi Air Laut Berpotensi Ganggu Pengolahan Air
Aspihani menjelaskan, intrusi air laut berpotensi mengganggu operasional intake Sungai Bilu dan intake Sungai Tabuk. Kedua fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pasokan air baku bagi Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Apabila kadar garam pada air baku melampaui batas toleransi proses pengolahan, air sungai tidak dapat diolah secara normal tanpa penanganan khusus. Situasi tersebut berpotensi menambah tantangan bagi penyedia layanan air minum, terutama ketika kemarau berkepanjangan membatasi ketersediaan sumber air dengan kualitas yang sesuai.
Karena itu, menurut Aspihani, pemerintah dan pihak terkait perlu menyiapkan langkah antisipatif yang terencana, bukan sekadar mengandalkan penanganan ketika gangguan pasokan sudah terjadi.
Penguatan infrastruktur, pemantauan kualitas air baku, serta kesiapan sistem pengolahan dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
Infrastruktur Air Baku Harus Jadi Prioritas
Salah satu langkah strategis yang disoroti Aspihani adalah pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi dari kawasan Sungai Tabuk untuk mendukung pasokan air bagi PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda).
Infrastruktur yang dibangun sejak 2017 dan mulai beroperasi sekitar 2020 tersebut dinilai memiliki arti penting dalam menjaga keberlanjutan pelayanan air minum. Keberadaannya, kata dia, harus dilihat dari manfaat jangka panjang bagi masyarakat, bukan hanya sebagai proyek pembangunan fisik.
“Infrastruktur yang dibangun sejak 2017 dan beroperasi sekitar tahun 2020 tersebut harus dipandang dari manfaat strategis keberlanjutan pelayanan air bersih masyarakat, bukan sebatas proyek fisik semata,” terangnya.
Aspihani menegaskan, ancaman krisis air bersih akibat kemarau panjang dan El Niño perlu dijawab melalui kebijakan yang berorientasi pada ketahanan pasokan. Pemerintah daerah, pengelola air minum, dan pemangku kepentingan lainnya perlu memperkuat koordinasi agar infrastruktur yang tersedia dapat berfungsi optimal dalam berbagai kondisi cuaca.
Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh bergantung sepenuhnya pada kondisi alam. Karena itu, perencanaan jangka panjang, pemeliharaan fasilitas, dan kesiapan menghadapi penurunan kualitas air baku perlu menjadi perhatian bersama.
LEKEM Kalimantan berharap pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan air bersih di Kalimantan Selatan. Upaya tersebut penting agar masyarakat di Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Banjarmasin, dan wilayah sekitarnya tetap memperoleh layanan air minum yang andal di tengah ancaman kemarau berkepanjangan.
Ketahanan sistem penyediaan air minum, pada akhirnya, bukan hanya persoalan infrastruktur, melainkan juga menyangkut perlindungan kebutuhan dasar dan kualitas hidup masyarakat.** ( BIP/RED )
EDITOR : DH


Komentar