NUSA TENGGARA BARAT, ( RIAUANTARA.CO ) – PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pendidikan dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program yang telah berjalan sejak 2024 ini mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak pesisir tidak hanya mendapatkan akses pembelajaran, tetapi juga didorong untuk mengenali lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta memahami peluang ekonomi di daerahnya.
Komitmen tersebut terlihat dalam kunjungan media pada 8 Oktober 2026. Dalam kegiatan itu, media berkesempatan melihat secara langsung pelaksanaan program yang telah menjangkau 135 penerima manfaat.
Sekolah Alam Anak Pesisir menjadikan lingkungan sekitar sebagai ruang belajar terbuka. Kawasan mangrove, wilayah pesisir, hingga ruang terbuka dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata.
VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan manfaat berkelanjutan melalui pengembangan potensi masyarakat dan peningkatan akses pendidikan.
“Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ujar Dian, Minggu (11/10/2026).
Tanam 4.500 Mangrove, Dorong Pelestarian Pesisir
Program Sekolah Alam Anak Pesisir tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dari aspek lingkungan, program ini telah mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove untuk membantu rehabilitasi kawasan pesisir. Upaya tersebut turut mendukung pelestarian ekosistem sekaligus memperkuat potensi kawasan mangrove sebagai penyimpan karbon.
Program ini mencatat potensi penyimpanan karbon sebesar 80,763 ton CO₂ per hektare. Capaian tersebut menjadi bagian dari kontribusi program terhadap peningkatan kesadaran lingkungan dan upaya menjaga keberlanjutan wilayah pesisir.
Pada sektor pendidikan, sebanyak 1.772 peserta telah terlibat dalam 11 kegiatan pembelajaran pesisir. Selain itu, destinasi edukasi mangrove dan pesisir mencatat 860 kunjungan per tahun.
Berbagai aktivitas pembelajaran dirancang agar anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga alam sejak dini. Mulai dari menanam dan merawat mangrove, mengenali ekosistem pesisir, hingga mempelajari permainan tradisional yang memperkenalkan nilai kebersamaan dan kearifan lokal.
Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
Dampak program juga diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat. Melalui pengembangan kelompok berbasis potensi lokal, kegiatan ini menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp24 juta per tahun.
Selain itu, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mendorong efisiensi biaya energi hingga Rp6,6 juta per tahun.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir dapat dikembangkan secara terpadu. Pendidikan menjadi fondasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelestarian lingkungan menjaga keberlanjutan sumber daya alam, sementara penguatan ekonomi membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Partisipasi masyarakat juga menjadi elemen penting dalam pelaksanaan program, terutama dalam pengelolaan kawasan pesisir dan pengembangan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Terapkan Konsep 3E, Pembelajaran Lebih Dekat dengan Alam
Keunggulan Sekolah Alam Anak Pesisir terletak pada penerapan pendekatan 3E, yakni Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi.
Melalui pendekatan ini, anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Mereka diajak memahami fungsi mangrove, menjaga kebersihan pesisir, mengembangkan kreativitas, serta mengenali potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari sumber daya lokal secara bertanggung jawab.
Pengembangan program dilakukan secara bertahap untuk membangun fondasi pembelajaran yang berkelanjutan.
Pada 2024, kegiatan difokuskan pada pembentukan kelompok, pembangunan Rumah Literasi sebagai ruang belajar, serta peningkatan kapasitas melalui kegiatan benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB.
Memasuki 2025, program mengembangkan Kurikulum 3E sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya, pada 2026, pengembangan Pertakid dilakukan sebagai media pembelajaran bagi peserta didik Sekolah Alam Anak Pesisir.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memastikan program berkembang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat setempat.
Berawal dari Delapan Anak, Kini Menjadi Ruang Belajar Anak Pesisir
Di balik berkembangnya Sekolah Alam Anak Pesisir, terdapat peran Zahit Idris, pendiri Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang. Ia telah merintis gerakan pendidikan bagi anak-anak di Desa Cendi Manik sejak 2022, berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan anak putus sekolah dan keterbatasan akses pendidikan.
Pada awalnya, kegiatan belajar tersebut hanya diikuti delapan anak. Proses pembelajaran berlangsung di musala karena saat itu belum tersedia ruang kelas permanen maupun kurikulum yang terstruktur.
Seiring waktu, inisiatif tersebut berkembang menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak pesisir. Dukungan melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir turut membuka peluang untuk memperluas metode pembelajaran yang lebih dekat dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Zahit mengatakan, kehadiran sanggar belajar diharapkan dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan diri, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh.
“Sanggar Belajar Jalan Pulang hadir untuk dapat menjadi ruang belajar dan tempat pulang bagi anak-anak pesisir di Cendi Manik yang kurang memiliki akses pendidikan. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, anak-anak dapat belajar menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas dan diri, serta memperluas wawasan tentang alam,” ujar Zahit.
Program Sekolah Alam Anak Pesisir menjadi contoh pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan pendidikan dengan pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat. Dengan melibatkan anak-anak serta komunitas lokal, inisiatif ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir di Nusa Tenggara Barat.** ( BIP/RED )
EDITOR : DH




Komentar