PEKANBARU, ( RIAUANTARA.CO ) – Anggota DPR RI Sahrul Aidi Maazat menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan transformasi kurikulum sebagai dua agenda strategis untuk memperkuat peran pondok pesantren di tengah tantangan zaman. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren se-Kabupaten Kampar.
Dalam pertemuan bersama para pimpinan pesantren tersebut, Sahrul Aidi menegaskan bahwa pesantren tidak hanya perlu memperkuat tradisi keilmuan Islam dan pembentukan akhlak santri, tetapi juga harus memiliki fondasi ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Menurutnya, kemandirian ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlangsungan pendidikan pesantren. Dengan pengelolaan ekonomi yang baik, pesantren dapat lebih leluasa mengembangkan fasilitas pendidikan, meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajar, serta memperluas pelayanan kepada masyarakat.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mengembangkan unit usaha produktif sesuai potensi dan sumber daya yang dimiliki masing-masing pesantren.
Selain menjadi sumber pendanaan alternatif, unit usaha tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi para santri untuk mengenal dunia bisnis, mengasah kreativitas, serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
“Pesantren ke depan tidak cukup hanya kuat dalam tradisi keilmuan Islam dan pembinaan akhlak. Pesantren juga perlu memiliki fondasi ekonomi yang kokoh agar mampu berkembang, mandiri, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat,” ujar Sahrul Aidi kepada awak media.
Transformasi Kurikulum Tanpa Kehilangan Jati Diri
Selain kemandirian ekonomi, Sahrul Aidi turut menyoroti pentingnya transformasi kurikulum pendidikan pesantren agar mampu menjawab kebutuhan dan perkembangan zaman.
Ia menilai, pembaruan kurikulum perlu dilakukan secara terarah dengan tetap mempertahankan identitas pesantren, nilai-nilai Islam, serta karakter pendidikan yang selama ini menjadi kekuatan utama lembaga tersebut.
Transformasi pendidikan bukan berarti meninggalkan tradisi yang telah mengakar. Sebaliknya, pembaruan harus menjadi upaya untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan santri agar mampu menghadapi dinamika sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan kehidupan modern.
Dengan demikian, pesantren diharapkan dapat terus melahirkan generasi yang memiliki pemahaman agama yang kuat, akhlak yang baik, wawasan luas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
Halaqah pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Kampar tersebut menjadi ruang penting untuk membahas arah pengembangan pesantren ke depan, khususnya dalam memperkuat kemandirian lembaga dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Sahrul Aidi berharap, penguatan ekonomi dan pembaruan kurikulum dapat berjalan beriringan sehingga pesantren tidak hanya mampu menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mandiri, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui langkah tersebut, pesantren diharapkan semakin kokoh dalam menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan Islam, pembentukan karakter, pemberdayaan ekonomi, sekaligus penggerak kemajuan umat di Kabupaten Kampar dan wilayah sekitarnya.**
EDITOR : DH



Komentar