65 Hari Berjibaku dengan Api Karhutla, Kerinduan Risky Hanya Ingin Memeluk dan Melihat Senyum Istri | riauantara.co
|

Menu Close Menu

65 Hari Berjibaku dengan Api Karhutla, Kerinduan Risky Hanya Ingin Memeluk dan Melihat Senyum Istri

Rabu, 04 November 2026 | 10:52 WIB

 


SIARAN PERS, ( RIAUANTARA.CO ) – Di balik perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tersimpan kisah pengorbanan yang jarang terlihat. Bukan hanya menghadapi kobaran api, panas ekstrem, dan ancaman keselamatan, para petugas pemadam juga harus menahan kerinduan kepada keluarga yang menanti kepulangan mereka di rumah.


Kisah itu dialami Risky Zulfitrah, petugas pemadam karhutla berusia 29 tahun yang telah hampir satu dekade mengabdikan diri di PT Arara Abadi, salah satu unit usaha APP Group.


Dalam salah satu penugasan, Risky harus meninggalkan istrinya, Riska Mala Dewi (28), selama kurang lebih 65 hari. Lebih dari dua bulan mereka menjalani kehidupan secara terpisah demi tugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan.


Di tengah beratnya pekerjaan, ada satu hal sederhana yang paling dirindukan Risky: senyum sang istri.


Ia ingin segera pulang, memeluk Riska, sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena harus meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama.


“Rasanya berat ketika meninggalkan istri di rumah sendirian,” ungkap Risky.


Warga Desa Tualang, Kecamatan Tualang, Perawang, itu mengakui bahwa menjalani penugasan jauh dari keluarga bukan perkara mudah. Terlebih, pekerjaan yang digelutinya memiliki risiko tinggi dan sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwa.


Nyaris Terjebak Kobaran Api yang Berbalik Arah

Hampir sepuluh tahun menjadi petugas pemadam karhutla membuat Risky akrab dengan berbagai situasi berbahaya. Ia terbiasa menghadapi kobaran api yang membesar, cuaca panas, hingga angin kencang yang dapat mengubah arah penyebaran kebakaran.


Namun, ada satu pengalaman yang hingga kini membekas dalam ingatannya.


Peristiwa itu terjadi saat dirinya bersama tim menjalankan tugas pemadaman di Distrik Kuala Lumpur, Sumatera Selatan. Ketika itu, mereka berupaya mengejar bagian depan kebakaran atau yang dikenal sebagai kepala api.


Situasi mendadak berubah ketika arah angin berbalik. Api yang semula berada di depan justru bergerak menuju posisi tim pemadam.


Sejumlah selang pemadam ikut terbakar. Jarak pandang semakin terbatas, sementara jalur menuju zona aman atau safety zone tidak lagi terlihat jelas.


Dalam situasi yang mengancam nyawa tersebut, Risky mengaku sempat diliputi ketakutan. Bayangan keluarga yang ditinggalkan di rumah tiba-tiba muncul dalam pikirannya.


“Pada saat itulah saya teringat keluarga dan timbul rasa takut bahwa saya tidak akan selamat karena api mengejar kami dan jarak pandang kami terbatas,” tuturnya.


Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa tugas pemadaman karhutla bukan sekadar pekerjaan fisik. Setiap petugas harus berhadapan dengan risiko yang dapat berubah dalam hitungan menit.


Meski demikian, Risky tetap berusaha menjalankan tanggung jawabnya. Semangat dan doa keluarga menjadi kekuatan yang membuatnya mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan di lapangan.


“Yang membuat saya bertahan itu karena semangat yang diberikan keluarga dan istri,” ujarnya.


Di Balik Kobaran Api, Ada Kerinduan yang Sama

Bagi Risky, perjuangan memadamkan karhutla juga menghadirkan ikatan emosional dengan sesama anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK).


Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika berkumpul di tenda penugasan bersama petugas dari berbagai daerah, seperti Kalimantan Barat, Jambi, Palembang, dan Riau.


Di tengah keterbatasan dan kelelahan, mereka saling berbagi cerita tentang keluarga yang ditinggalkan. Ada yang merindukan istri, anak, maupun orang tua. Ada pula yang menyimpan kecemasan karena tidak mengetahui kapan dapat kembali ke rumah.


Kebersamaan itu menghadirkan rasa persaudaraan yang kuat. Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan kerinduan yang sama.


“Kami sesama anggota RPK meninggalkan keluarga berbulan-bulan dan tidak tahu apakah bisa pulang dengan selamat atau tidak,” ungkap Risky.


Di tengah ancaman kebakaran, kebersamaan rekan kerja menjadi salah satu sumber kekuatan. Mereka tidak hanya bekerja sebagai satu tim, tetapi juga saling menguatkan dalam menghadapi situasi sulit.


Istri Menunggu dengan Cemas, Hari Raya Pun Terlewat

Jika Risky harus menghadapi kobaran api di lokasi penugasan, Riska Mala Dewi harus menjalani hari-hari penuh kecemasan di rumah.


Sebagai istri, Riska mengaku selalu diliputi kekhawatiran setiap kali suaminya berangkat menjalankan tugas pemadaman. Perasaan itu semakin berat ketika Risky tidak kunjung pulang atau sulit dihubungi.


Ketidakpastian komunikasi kerap membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.


“Perasaan saya campur aduk, takut suami saya kenapa-kenapa,” kata Riska.


Pekerjaan Risky juga membuat sejumlah momen penting keluarga harus dilewati tanpa kehadirannya. Bahkan, perayaan Idulfitri dan Iduladha pernah mereka jalani secara terpisah karena sang suami masih bertugas memadamkan karhutla.


Bagi Riska, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dibandingkan melihat suaminya kembali ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat.


“Hati saya bahagia melihat suami saya akhirnya pulang ke rumah dengan selamat,” ujarnya.


Meski memahami tanggung jawab pekerjaan suaminya, Riska tetap berharap Risky tidak terlalu lama berada jauh dari keluarga.


Doa Orang Tua Mengiringi Setiap Langkah Risky

Kekhawatiran juga dirasakan kedua orang tua Risky, Ajran (56) dan Ernawaty (55). Mereka mengaku tidak pernah benar-benar tenang ketika anaknya harus bertugas di tengah kawasan hutan yang dilanda kebakaran.


Penantian terasa semakin berat ketika Risky tidak pulang selama berbulan-bulan. Terlebih, komunikasi yang terbatas membuat mereka tidak selalu mengetahui kondisi anaknya di lapangan.


Sebelum berangkat bertugas, kedua orang tuanya selalu menyampaikan pesan agar Risky berhati-hati, tidak ceroboh, dan senantiasa berdoa.


Mereka juga mengingatkan Risky agar tidak meninggalkan salat serta selalu memohon perlindungan Tuhan ketika memasuki kawasan hutan.


Harapan mereka sebenarnya sederhana: Risky selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rezeki.


Ketika Risky pulang dalam kondisi kelelahan setelah menjalani penugasan panjang, rasa haru bercampur sedih menyelimuti keluarga. Mereka memahami besarnya pengorbanan yang harus dijalani anaknya demi menjalankan tugas.


Pulang dengan Selamat, Kebahagiaan yang Tak Tergantikan

Di balik seragam dan tanggung jawab sebagai petugas pemadam karhutla, Risky tetaplah seorang suami dan anak yang ingin selalu dekat dengan keluarganya.

Selama berada di lokasi penugasan, ia menyimpan kerinduan sederhana yang terus menjadi penyemangat: kembali ke rumah, memeluk istri, dan melihat senyum orang-orang yang dicintainya.


Permintaan maaf kepada Riska karena harus meninggalkannya selama puluhan hari juga menjadi hal yang ingin segera disampaikan.


Sementara itu, Riska hanya berharap suaminya selalu menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan selama bertugas. Ia memahami bahwa pekerjaan tersebut penuh risiko, tetapi keselamatan Risky tetap menjadi hal yang paling utama.


“Pokoknya, pulang ke rumah dengan selamat,” pesan Riska.


Kalimat sederhana itu menggambarkan besarnya harapan keluarga para petugas karhutla. Di balik setiap upaya memadamkan api, ada keluarga yang menunggu, doa yang terus dipanjatkan, dan kerinduan yang tak pernah padam.


Sebab, bagi Risky, keberhasilan menjalankan tugas bukan hanya tentang memadamkan kobaran api, tetapi juga tentang bisa kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga tercinta.**


EDITOR : DH

Bagikan:

Komentar