PEKANBARU, ( RIAUANTARA.CO ) – Hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam tidak dapat dipandang sebagai tiga hal yang berdiri sendiri. Dalam perspektif tasawuf, ketiganya memiliki keterkaitan yang erat dalam perjalanan spiritual manusia untuk mengenal, mendekat, dan mengabdi kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Sahabat Lingkungan Hidup (SLH) Riau, M. Akhyar Chomel, S.Sos, yang menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab spiritual manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.
Menurutnya, alam merupakan ciptaan Allah sekaligus tanda-tanda kebesaran-Nya. Langit, laut, hutan, sungai, tanah, pepohonan hingga seluruh makhluk hidup menjadi bagian dari ayat-ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta.
Karena itu, menjaga lingkungan sejatinya tidak hanya berarti mempertahankan keseimbangan ekosistem. Lebih jauh, kepedulian terhadap alam dapat menjadi bagian dari perjalanan batin manusia dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.
“Ketika manusia merusak alam, yang terganggu bukan hanya keseimbangan lingkungan, tetapi juga hubungan spiritual manusia dengan Sang Pencipta,” demikian pesan yang menjadi landasan pemikiran Sahabat Lingkungan Hidup.
Manusia sebagai Khalifah, Bukan Penguasa Alam
Dalam ajaran Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Kedudukan tersebut bukanlah legitimasi untuk mengeksploitasi alam tanpa batas. Sebaliknya, status sebagai khalifah membawa tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan, merawat kehidupan, serta mencegah berbagai bentuk kerusakan.
Perspektif tasawuf melihat persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kondisi batin manusia. Keserakahan, keangkuhan, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dapat membuat manusia memandang alam hanya sebagai komoditas untuk memperoleh keuntungan.
Ketika orientasi material menjadi dominan, hutan dapat dilihat sebatas sumber kayu, tanah menjadi sekadar aset, sungai dianggap sebagai saluran pembuangan, sementara laut dan kekayaan alam dipandang hanya dari nilai ekonominya.
Sebaliknya, hati yang semakin dekat kepada Allah akan menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh kekayaan alam merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Menjaga Alam sebagai Bagian dari Akhlak
Dalam kerangka tersebut, mencintai dan merawat lingkungan dapat menjadi bagian dari akhlak manusia kepada Allah SWT.
Menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, melindungi hutan, merawat kawasan laut dan mangrove, serta mencegah pencemaran merupakan tindakan nyata yang tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mencerminkan kesadaran manusia terhadap amanah yang diberikan kepadanya.
Tindakan ekologis akan memiliki makna yang lebih dalam ketika dilakukan dengan kesadaran bahwa alam bukan milik manusia secara mutlak. Manusia hanya menerima amanah untuk mengelola dan menjaganya bagi keberlangsungan kehidupan.
Dalam perspektif tasawuf, kerusakan lingkungan bahkan dapat menjadi cermin dari persoalan batin manusia. Ketika hawa nafsu untuk memiliki dan menguasai tidak lagi mengenal batas, alam menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.
Saatnya Membangun Pertobatan Ekologis
Karena itu, diperlukan apa yang dapat disebut sebagai pertobatan ekologis. Pertobatan tersebut tidak cukup berhenti pada penyesalan atau ungkapan keprihatinan, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan perilaku.
Pertobatan ekologis berarti berani mengakui kesalahan, menghentikan tindakan yang merusak, memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, sekaligus membangun kembali hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam.
Sahabat Lingkungan Hidup berpandangan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, komunitas, maupun organisasi tertentu. Persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh manusia sebagai makhluk Tuhan.
Hubungan dengan Tuhan melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan kasih kepada sesama.
Dan kasih kepada sesama melahirkan kepedulian terhadap alam.
Pada akhirnya, menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Menjaga kehidupan berarti menjalankan amanah yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Bagi seseorang yang menempuh jalan tasawuf, alam tidak berhenti sebagai sekadar kumpulan ciptaan. Dengan mata hati, alam dapat menjadi ruang perenungan untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.
Sebab, semakin manusia mengenal Tuhannya, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk menjaga ciptaan-Nya.**
editor : DH


Komentar